NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi nasional sepanjang tahun 2025 tercatat mencapai Rp496,9 triliun. Investasi hilirisasi berkembang tidak hanya di sektor mineral.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan perkembangan investasi tidak hanya di sektor mineral diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih besar.
“Ini yang terus kita dorong, supaya investasi tidak hanya terkonsentrasi di sektor mineral, tetapi juga meluas ke sektor-sektor pertumbuhan lainnya yang mampu menciptakan lapangan kerja lebih besar,” kata Rosan, di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Ia memaparkan, investasi sektor mineral dinilai secara nominal tinggi, tetapi untuk lapangan pekerjaannya lebih besar sektor perkebunan dibandingkan sektor mineral.
“Kalau kita bandingkan, realisasi sektor mineral memang besar secara angka, tetapi kebutuhan dan daya serap lapangan kerjanya jauh lebih besar di sektor-sektor pertumbuhan,” paparnya.
Selain itu, dia juga menyoroti saat ini tujuan investasi tidak hanya di sektor mineral tetapi juga di sektor-sektor lainnya. Salah satunya sektor kelautan yang mulai dilirik investor.
“Kalau kemarin lebih banyak di sektor mineral, sekarang kita lihat sektor pertumbuhan mulai masuk. Sektor kelautan yang dulu hampir tidak ada, sekarang sudah mulai berjalan,” pungkasnya.
Sementara itu, Singapura tercatat secara konsisten menjadi negara dengan kontribusi investasi terbesar ke Indonesia dalam lebih dari 10 tahun terakhir. Nilai investasinya mencapai US$4,8 miliar atau sekitar 30,1% dari total investasi yang masuk.
“Secara konsisten, Singapura ini dalam lebih dari 10 tahun terakhir masih berada di posisi pertama dengan nilai investasi sebesar US$4,8 miliar atau sekitar 30,1%,” jelasnya.
Ia menjelaskan, investasi lain yang masih dapat dikendalikan, yaitu skema lithium ferro phosphate (LFP), yang jika digabungkan total nilainya berpotensi melampaui Singapura.
“Kalau kita gabungkan dua ini, angkanya pasti melewati Singapura. Totalnya bisa mencapai sekitar US$5,5 miliar,” katanya.
Selain Singapura, investasi asing juga datang dari sejumlah negara dan kawasan lain. Hong Kong tercatat menanamkan modal sekitar US$4 miliar, disusul Tiongkok sebesar US$2,3 miliar, Malaysia sebesar US$1,3 miliar atau sekitar 10,9%. Sedangkan Jepang memiliki pola yang berbanding terbalik dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Malaysia. (Uyun)
























