NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Harga nikel dunia dari pasar China, Shanghai Metals Market (SMM), masih bertahan di kisaran US$17.876,23/ton pada perdagangan Rabu (14/1/2026). Harga tersebut terjadi di tengah tarik-menarik sentimen global, mulai dari data inflasi Amerika Serikat (AS), dinamika geopolitik, hingga kondisi pasokan dan permintaan nikel global.
Berdasarkan laporan SMM, penguatan harga terlihat di pasar China. Harga nikel olahan SMM #1 tercatat berada di rentang CN¥141.300–151.600/ton, dengan harga rata-rata CN¥146.450/ton, naik CN¥1.250/ton dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan optimisme pasar, meski dinilai masih rapuh.
Dari sisi makroekonomi, sentimen positif datang dari AS setelah data Indeks Harga Konsumen (CPI) Desember menunjukkan stabilitas, dengan CPI inti sedikit di bawah ekspektasi. Presiden AS, Donald Trump, bahkan menilai data tersebut sebagai sinyal bagi The Fed untuk memangkas suku bunga. Namun, otoritas bank sentral AS menegaskan bahwa sikap wait and see masih menjadi pendekatan utama karena satu data belum cukup mengubah arah kebijakan moneter.
Ketidakpastian pasar juga diperkuat oleh faktor geopolitik. Uni Eropa dikabarkan tengah membahas sanksi tambahan terhadap Iran, sementara Trump menyatakan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran telah dibatalkan. Situasi ini menambah tekanan psikologis di pasar komoditas global, termasuk nikel.
Di pasar berjangka, kontrak nikel Shanghai Futures Exchange (SHFE) paling aktif (2.602) menguat 1,47% dan ditutup di level CN¥143.160/ton pada sesi pagi. Meski demikian, SMM menilai pergerakan harga masih dibayangi kondisi fundamental, terutama tingginya persediaan dan lemahnya permintaan, yang berlawanan dengan ekspektasi kebijakan Indonesia sebagai produsen utama nikel dunia.
“Pasar nikel saat ini berada dalam tarik-menarik yang sengit antara ekspektasi kebijakan dan realitas fundamental,” tulis SMM, Rabu (14/1/2026).
Lembaga tersebut memperkirakan kisaran fluktuasi kontrak nikel SHFE masih akan berada di rentang CN¥128.000–145.000/ton, dengan potensi volatilitas dalam waktu dekat.
Sementara itu, dari dalam negeri, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) tetap optimistis harga nikel global berpeluang menguat. Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, menilai, harga nikel berpotensi bergerak hingga US$19.000/ton, dengan asumsi pasokan tetap terkontrol dan permintaan membaik.
“Harga nikel berpotensi bergerak di kisaran US$17.000–19.000/ton,” ujar Meidy kepada Media Nikel Indonesia di Jakarta, Jumat (9/1/2026). Menurutnya, harga tersebut realistis dalam kondisi saat ini, sementara untuk menembus US$20.000/ton masih cukup berat dalam waktu dekat.
“Tembus US$20.000/ton baru mungkin terjadi jika ada gangguan pasokan global yang besar atau lonjakan permintaan signifikan, khususnya dari industri baja nirkarat dan kendaraan listrik,” jelasnya.
Meidy juga menyoroti keterlambatan penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebagai salah satu faktor yang memengaruhi harga nikel. Namun, dampaknya dinilai hanya bersifat jangka pendek.
“Keterlambatan RKAB memang menciptakan pasokan yang lebih ketat di pasar domestik karena suplai bijih ke smelter terganggu. Tetapi Indonesia tetap dipandang sebagai produsen utama nikel dunia,” tegasnya.
Menurut APNI, penguatan harga nikel idealnya tidak hanya bersifat spekulatif, melainkan mencerminkan keseimbangan antara harga, produksi, dan keberlanjutan jangka panjang, sehingga industri tetap sehat, negara memperoleh manfaat, dan pelaku usaha dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Dengan kondisi tersebut, harga nikel global saat ini dinilai masih mencari arah. Di satu sisi, sentimen makro dan harapan kebijakan menopang harga, namun di sisi lain, tantangan fundamental tetap menjadi bayang-bayang pergerakan nikel ke depan. (Shiddiq)






















