NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Perusahaan material presisi asal Korea Selatan, Sphere Corp, resmi masuk sebagai mitra strategis proyek Excelsior Nickel Cobalt (ENC) milik Nickel Industries Limited (NIC). Sphere, dikenal sebagai pemasok utama nikel untuk perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk, akan mengambil 10% saham di proyek ENC yang berlokasi di Indonesia.
Deputy Companies Editor NIC, James Thornhill, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (8/1/2026), menilai, transaksi pada proyek ENC bernilai US$3,6 miliar. Transaksi tersebut mencerminkan adanya peningkatan minat global terhadap aset hilirisasi nikel Indonesia yang berorientasi pada produk bernilai tambah tinggi.
“Sphere merupakan perusahaan publik yang tercatat di Bursa Kosdaq Korea Selatan, dengan spesialisasi paduan logam berkinerja tinggi untuk industri aeronautika dan kedirgantaraan. Perusahaan ini sebelumnya telah mengamankan kontrak pasokan 10 tahun dengan SpaceX senilai sekitar US$1 miliar untuk memasok nikel berkinerja tinggi dan superalloy bagi komponen roket. Dalam kesepakatan dengan Nickel Industries, Sphere tidak hanya masuk sebagai pemegang saham, tetapi juga bertindak sebagai pembeli produk,” kata James memaparkan.
Sphere, sambungnya, akan menyerap 10% produksi nikel katode dari proyek ENC, serta memiliki opsi offtake tambahan di luar porsi kepemilikannya dengan skema harga pasar.
Terkait hal itu, Direktur Utama Nickel Industries, Justin Werner, menegaskan bahwa kemitraan ini menjadi validasi penting bagi kualitas produk ENC.
“Investasi Sphere menunjukkan pengakuan atas kualitas nikel katode ENC, keterlacakan produk, serta visi kami menjadikan ENC sebagai etalase global produsen nikel berkualitas tinggi yang berkelanjutan dengan struktur biaya di kuartil terbawah,” ujar Werner, dikutip dari laman resmi Nickel Industries.
Ia menambahkan, transaksi ini juga menandai perjanjian offtake pertama ENC ke pasar Barat, khususnya ke sektor aeronautika dan kedirgantaraan yang menuntut standar kualitas tertinggi dan diproyeksikan tumbuh sekitar 8% CAGR hingga 2030.
Saat ini, Nickel Industries memegang 44% saham di proyek ENC. Pemegang saham terbesar NIC, Shanghai Decent, juga merupakan pemangku kepentingan utama dalam proyek tersebut. Meskipun porsi kepemilikan NIC tidak berubah pasca-transaksi ini.
Proyek ENC sendiri merupakan fasilitas HPAL generasi terbaru yang ditargetkan mulai berproduksi secara komersial pada 2026, dengan kapasitas sekitar 72.000 ton logam nikel per tahun.
Selain nikel katode, ENC juga mampu memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP), serta nikel dan kobalt sulfat, memperkuat posisi Nickel Industries dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.
Di pasar modal, sentimen positif langsung tercermin. Saham Nickel Industries melonjak 5,7% pada perdagangan awal Jumat setelah pengumuman kerja sama tersebut. Sepanjang 2025, saham NIC telah menguat 6,8%, sejalan dengan kinerja indeks S&P/ASX 200.
Kerja sama ini juga hadir di tengah dinamika harga nikel global yang masih volatil. Selama 12 bulan terakhir, kekhawatiran kelebihan pasokan dari Indonesia menekan harga nikel. Namun, pasar sempat menguat pada Desember 2025 setelah pemerintah Indonesia mengonfirmasi rencana pemangkasan produksi signifikan pada 2026.
Dengan masuknya Sphere, Nickel Industries menilai peluang pasokan ke pasar aeronautika dan kedirgantaraan Amerika Utara semakin terbuka lebar. Transaksi ini ditargetkan rampung pada kuartal I 2026, sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok nikel global bernilai tinggi. (Lili Handayani)






















