Beranda Korporasi Meski Cuaca Ekstrem, Central Omega Resources Klaim Produksi dan Penjualan Masih Sesuai...

Meski Cuaca Ekstrem, Central Omega Resources Klaim Produksi dan Penjualan Masih Sesuai Target

973
0
Direktur PT Central Omega Resources, Andi Jaya (Foto: MNI)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — PT Central Omega Resources Tbk. mencatat kinerja positif hingga kuartal III 2025 dengan berhasil memproduksi bijih nikel sekitar 300 ribu ton dan membukukan penjualan mencapai 450 ribu ton. Meski realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, manajemen menilai capaian tersebut masih berada dalam koridor perencanaan yang telah ditetapkan, seiring dengan tantangan cuaca ekstrem.

Hal itu disampaikan Direktur PT Central Omega Resources, Andi Jaya, dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Jumat (19/12/2025).

“Di kuartal III kita mencatat itu produksi 300-an ribu ton dengan penjualan 450-ribuan ton. Agak menurun memang dibandingkan dengan kuartal II, tapi memang itu sudah sesuai dengan prediksi karena kondisi cuaca yang sangat cukup ekstrem di beberapa lokasi tambang kami,” ujarnya.

Dari sisi kinerja keuangan, Andi menyebut capaian perusahaan hingga kuartal III 2025 masih berada dalam kondisi yang sehat. Baik pendapatan maupun laba bersih dinilai masih sejalan dengan target yang telah ditetapkan manajemen.

“Secara total itu sudah oke baik dari sisi revenue-nya maupun dari sisi net profit-nya. Target profit and loss (PnL) ataupun target earning per share (EPS) kami itu masih on progress,” ujarnya.

Dalam menjalankan strategi bisnis, direktur kelahiran Jakarta, 21 September 1971, ini menjelaskan, saat ini perusahaan masih berfokus pada kegiatan pertambangan karena fasilitas smelter milik perseroan sementara belum beroperasi akibat keterbatasan teknologi. Oleh karena itu, hasil tambang berupa bijih nikel dijual ke sejumlah fasilitas pengolahan yang beroperasi di dalam negeri.

“Kami kan di bidang tambang saat ini karena smelter sementara sedang tidak beroperasi berkaitan dengan teknologi yang memang sudah ketinggalan. Jadi, fokus kami adalah sekarang menjual nickel ore kepada beberapa pengolahan yang ada di Indonesia ini,” jelasnya.

Menurutnya, arah penjualan bijih nikel perusahaan difokuskan untuk mendukung kebutuhan industri baterai, dengan produk antara hasil pengolahan hidrometalurgi sebagai tujuan utama.

“Fokus kami saat ini memang lebih ke arah untuk menunjang industri baterai end-nya, yang intermediate product-nya adalah mixed sulfide precipitate (MSP),” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perusahaan meningkatkan porsi penjualan bijih nikel jenis limonit dibandingkan saprolit. Limonit dinilai lebih sesuai untuk diolah melalui teknologi high pressure acid leaching (HPAL), yang menghasilkan MSP sebagai bahan baku lanjutan industri baterai.

“Jadi, fokus penjualan kami sekarang lebih banyak limonit. Nickel ore kan ada dua bagian: limonit dan saprolit,” ucapnya.

Sementara itu, dari sisi pasar, master of business administration lulusan GS Fame Philippine School of Business Administration itu menilai, permintaan terhadap produk berbasis MSP masih menunjukkan kinerja yang relatif baik dibandingkan nickel pig iron (NPI) maupun feronikel yang tertekan akibat penurunan permintaan stainless steel di pasar global.

“Permintaan saat ini masih cukup bagus karena memang beberapa pabrik pengolahan untuk MSP masih berjalan cukup baik,” pungkasnya.

Ke depan, ia menilai prospek pasar limonit akan semakin terbuka seiring dengan rencana penambahan fasilitas HPAL yang saat ini tengah dibangun dan ditargetkan mulai berproduksi secara komersial pada 2026, sejalan dengan karakter cadangan perusahaan yang didominasi oleh bijih nikel limonit. (Tubagus)