NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah konsisten akan terus memperkuat hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah daya saing ekonomi nasional. Maka dari itu, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (Keminhil/BKPM) menyelenggarakan “Ekspos Proposal Bisnis Hilirisasi Investasi Strategis 2025” dengan tema “Proposal Bisnis (Probis) Hilirisasi, Tingkatkan Realisasi Investasi”, di Jakarta, Kamis (18/12).
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis, Heldy Satrya Putera, mengatakan, investasi hilirisasi merupakan kunci dalam mendorong realisasi investasi yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi nasional.
“Investasi merupakan salah satu kunci penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mencapai target pertumbuhan hingga 8% pada 2029, hilirisasi harus menjadi motor utama dengan proyek-proyek yang terukur, realistis, dan siap dieksekusi,” kata Heldy dalam keterangan tertulis yang diterima Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), Jumat (19/12/25).
Ia menjelaskan, kegiatan probis tersebut dilakukan bekerja sama dengan konsultan internasional yang memang biasa menjadi rujukan investor sebelum mereka memutuskan untuk masuk ke Indonesia.
“Ini dilakukan dengan harapan kemanfaatan dari probis ini bisa sesuai dengan ekspektasi dan keinginan dari para investor baik dalam negeri maupun internasional,” tuturnya
Sementara itu, Direktur CNGR Advanced Material, Veronika Yu, menyampaikan, upaya pemerintah untuk terus mendorong hilirisasi nikel terus menunjukkan perkembangan yang signifikan.
“Bahan mentah nikel yang dimiliki oleh Indonesia bisa diolah menjadi ingot nikel atau katoda nikel dengan kadar 99,9% yang banyak digunakan untuk komponen aerospace serta peralatan medis, seperti magnetic resonance imaging (MRI) dan computed tomography scan (CT scan),” pungkasnya.
Diketahui, Probis Hilirisasi Investasi Strategis 2025 memetakan 15 komoditas prioritas yang berasal dari sektor mineral, minyak dan gas bumi, kelautan dan perikanan, serta perkebunan dan kehutanan.
Komoditas tersebut di antaranya nikel, timah, bauksit, tembaga, pasir silika, besi baja, minyak bumi, gas bumi, kelapa sawit, kelapa, udang, ikan tilapia, tuna–cakalang–tongkol, garam, dan rumput laut, yang dikembangkan sebagai proyek hilirisasi strategis di berbagai wilayah Indonesia.
Selain itu, probis tersebut disusun secara komprehensif dan terintegrasi, mencakup aspek pasar, lokasi dan ketersediaan bahan baku, aspek teknis dan teknologi, keekonomian proyek, pembiayaan, aspek hukum dan perizinan, penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), manajemen risiko, serta rencana implementasi proyek.
Probis ini juga dibentuk berdasarkan hasil diskusi dengan pelaku usaha hulu hingga hilir, kementerian terkait, pengelola kawasan industri, asosiasi, dan akademisi dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang realistis, terukur, dan siap dieksekusi bagi calon investor dan para pemangku kepentingan.
Guna meningkatlan daya tarik dan kepastian berusaha bagi investor, pemerintah menyediakan dukungan kebijakan berupa insentif fiskal dan nonfiskal, pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK), serta penetapan proyek hilirisasi sebagai proyek strategis nasional (PSN).
Dalam RPJMN 2025-2029 yang dikeluarkan oleh Kementerian PPN/Bappenas, investasi diharapkan berkontribusi sebesar Rp13.032,8 triliun hingga tahun 2029, dengan sektor hilirisasi diproyeksikan dapat berkontribusi signifikan sebesar Rp3.464,5 triliun. Pada periode Januari–September 2025, realisasi investasi di sektor hilirisasi tercatat mencapai Rp431,4 triliun, atau sekitar 83 persen dari target realisasi hilirisasi tahun 2025 yang mencapai Rp 521,4 triliun. Capaian ini menjadi gambaran minat investor yang meningkat terhadap proyek-proyek hilirisasi yang memiliki kepastian implementasi dan dukungan kebijakan yang kuat. (Uyun)






















