NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Hilirisasi nikel yang dinilai berhasil dan melipatgandakan value added pendapatan negara dari sektor nikil kini tengah menghadapi tantangan besar. Menurut Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, tantangan tersebut justru datangnya dari regulasi belum sejalan dengan perkembangan sektor pengolahan dan pemurnian yang terus berkembang pesat. Ia menilai aturan yang ada belum mampu mengikuti dinamika industri yang berubah cepat.
“Regulasi, misalnya. Satu regulasi kita tidak cukup berimbang dengan kemajuan industri. Regulasi itu sebisa mungkin harus menyesuaikan dengan perkembangan industri yang ada.” ujar Arif kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), di sela-sela acara “Transformasi Industri Smelter dan Logam Pertambangan di Indonesia”, di Jakarta, Kamis (27/11/2025).

Selain hambatan regulasi, ia menambahkan, tekanan ekonomi global turut mempengaruhi kondisi industri. Saat ini terjadi oversupply di pasar nikel dunia, yang berdampak pada melemahnya harga dan memengaruhi kemampuan perusahaan dalam menjaga prioritas operasional.
“Secara market disebutkan ada oversupply, kemudian adanya penurunan harga. Ini mempengaruhi perusahaan untuk mengalokasikan sumber dayanya terhadap program-program yang menjadi bagian dari operasi, seperti keselamatan, kesehatan kerja,” jelasnya.
Dari sisi internal, industri nikel juga dihadapkan pada keterbatasan tenaga kerja terampil, terutama karena teknologi yang digunakan masih banyak berasal dari luar negeri. Kondisi ini membuat Indonesia harus mengejar ketertinggalan kompetensi agar dapat mengimbangi kebutuhan industri.
“Ini kan teknologinya teknologi dari luar yang Indonesia harus catch up. Para pelaku usaha dan pemerintah harus menginvestasikan secara serius program pengembangan tenaga kerja supaya menjadi tenaga kerja yang handal dan kompeten di industri ini,” tegasnya.
Dia juga mengingatkan pentingnya keberadaan ahli teknologi untuk memastikan keberhasilan hilirisasi. Pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian yang semakin banyak tidak akan maksimal tanpa penguasaan teknologi yang memadai.

“Jangan sampai banyak industri hilirisasi berdiri, baik teknologi pirometalurgi maupun hidrometalurgi, tapi penguasaan teknologi dan transfer teknologi tidak terjadi,” katanya mengingatkan.
Untuk memperkuat pemahaman pelaku industri, FINI menggelar lokakarya (workshop) yang secara khusus membahas aspek keselamatan kerja. Program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) memiliki peranan vital bagi keberlangsungan industri nikel.
“Program K3 di industri nikel ini mempunyai dampak yang sangat besar dan sangat kompleks terhadap bisnis perusahaannya,” katanya.
Tanpa pembenahan regulasi, penguatan kualitas SDM, dan penguasaan teknologi yang lebih baik, tantangan yang dihadapi industri nikel akan semakin berat di tengah tekanan pasar global. (Tubagus)

























