NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Pengelolaan tailing di industri nikel perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama pada fasilitas yang menggunakan teknologi high pressure acid leaching (HPAL). Hal itu ditegaskan Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), di sela acara “Transformasi Industri Smelter dan Logam Pertambangan di Indonesia”, di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Arif menjelaskan, saat ini residu dari proses pirometalurgi tidak lagi menjadi persoalan utama dalam manajemen tailing. Material tersebut sudah memiliki kepastian regulasi.

“Manajemen tailing yang terkait dengan residu dari industri nikel dengan teknologi pirometologi, dalam tanda kutip, sudah terselesaikan. Karena slag sekarang ini sudah dikecualikan, aturannya sudah seperti demikian,” ujarnya.
Tantangan besar, menurut dia, justru datang dari proses pengolahan yang menggunakan teknologi HPAL. Karakteristik tailing yang dihasilkan dari teknik hidrometalurgi berbeda signifikan dibandingkan dengan tailing pirometalurgi.

Ia menerangkan, tailing HPAL berbentuk sluri (slurry), lumpur dengan kadar air yang tinggi dan volume yang lebih besar dibandingkan residu dari proses pirometalurgi. Kondisi ini menuntut metode penanganan yang berbeda. Pelaku usaha harus memanajemen sluri dengan cara yang berbeda.
Pemerintah, katanya lebih lanjut, mendorong pelaku usaha menerapkan sistem penempatan tailing menggunakan metode dry stack, tailing dikeringkan kemudian ditumpuk dan bisa digunakan untuk menutup lubang bekas tambang. Teknologi ini dinilai lebih aman dan dapat dimanfaatkan dalam kegiatan reklamasi. (Tubagus)
























