Harga Nikel dan Batubara Masih Berpotensi Naik di Semester Kedua

NIKEL.CO.ID – Harga sejumlah komoditas tambang masih menunjukkan tren penguatan di sepanjang tahun berjalan. Mengutip Bloomberg, harga batubara ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman Oktober 2021 berada di angka US$ 174,85 per ton pada penutupan perdagangan Jumat (10/9). Angka tersebut melesat 118,42% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2020 yang sebesar US$ 80,05 per ton.

Kecenderungan kenaikan harga juga ditemui pada harga komoditas tambang mineral seperti nikel. Data Bloomberg menunjukkan bahwa harga nikel di London Metal Exchanges (LME) untuk kontrak perdagangan tiga bulan berada di level US$ 20.392 per metrik ton pada penutupan perdagangan Jumat (10/9). Bila dibandingkan dengan posisi harga nikel LME per akhir tahun 2020 yang sebesar US$ 16.613 per metrik ton, harga nikel LME pada penutupan perdagangan Jumat (10/9/2021) sudah menguat 22,74%.

Analis Samuel Sekuritas, Dessy Lapagu mengatakan, kenaikan harga pada komoditas batubara dan nikel didorong oleh kenaikan permintaan seiring perbaikan ekonomi di tengah pasokan dari negara-negara produsen yang masih terdisrupsi (supply disruption). Gangguan pasokan ini sebagian besar terjadi lantaran produktivitas negara-negara produsen yang menurun di tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

“Mayoritas karena penurunan produktivitas pada pandemi 2020 lalu, dan butuh waktu untuk pick up pada tahun ini, butuh waktu lagi untuk bisa kembali ke level normal,” terang Dessy kepada Kontan.co.id, Minggu (12/9/2021).

Di sisa tahun berjalan ini, Dessy memperkirakan bahwa faktor yang sama, yakni kenaikan permintaan serta pasokan yang terdisrupsi masih berpotensi menjadi pendorong kecenderungan uptrend harga batubara dan nikel. Proyeksinya, harga-harga rata-rata batubara selama setahun penuh di tahun 2021 dan 2022 berpotensi berada di level US$ 90 per ton-US$ 100 per ton,  sementara harga rata-rata nikel berada di level US$ 18.200 per ton-US$ 18.800 per ton pada periode yang sama.

“Sentimen semester kedua kami perkirakan masih sama. Dengan demikian, masih ada potensi uptrend,” tutur Dessy.

Di tengah kondisi yang demikian, strategi mendorong produksi agar dapat memperoleh momentum pendapatan yang maksimal menjadi strategi yang optimal bagi perusahaan tambang menurut Dessy. Meski begitu, menurut Dessy, strategi tersebut sebaiknya dibarengi dengan  upaya menjaga margin untuk mempertahankan kinerja ketika harga dalam tren melemah.

Seiring dengan kecenderungan harga yang mendaki, perusahaan-perusahaan pertambangan pelat merah dengan yang menggarap komoditas-komoditas ini telah menyusun strateginya masing-masing untuk memoles kinerja. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) misalnya.

Emiten batubara pelat merah ini menargetkan kenaikan volume produksi batu bara dari 25 juta ton pada 2020 menjadi 30 juta ton batubara pada 2021. Sepanjang paruh pertama tahun ini, PTBA telah merealisasikan produksi 13,3 juta ton n dengan penjualan sebanyak 12,9 juta ton.

Sebelumnya, PTBA mencatatkan kinerja yang ciamik seiring tren pergerakan positif batubara.  Sepanjang semester pertama 2021 lalu, PTBA berhasil membukukan laba bersih sebanyak Rp 1,8 triliun, naik 38% dibanding periode serupa di tahun lalu yang senilai Rp 1,3 triliun. Pencapaian laba bersih ini didukung dengan pendapatan sebesar Rp 10,3 triliun, meningkat 14% dari capaian di periode serupa tahun lalu Rp 9,0 triliun.

“Kenaikan kinerja ini seiring dengan pemulihan ekonomi global maupun nasional yang mendorong naiknya permintaan atas batu bara. Disertai dengan kenaikan harga batu bara yang signifikan hingga menyentuh level US$ 134,7 per ton pada 30 Juni 2021,” terang Sekretaris Perusahaan PTBA Apollonius Andwie dalam keterangan tertulis yang dirilis belum lama ini.

Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), perusahaan dengan komoditas utama bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, alumina, batubara, serta jasa pengolahan dan pemurnian logam mulia telah menyusun sejumlah strategi. Mengutip paparan Public Expose Live 2021, beberapa strategi tersebut di antaranya seperti optimasi pengelolaan biaya dan inovasi pada bidang operasi untuk menjaga biaya tunai operasi tetap rendah, memperluas basis pelanggan komoditas perusahaan, serta strategi preservasi kas dengan memprioritaskan belanja modal yang mendukung kelangsungan usaha, pertumbuhan perusahaan, serta keselamatan kerja guna menjaga kestabilan arus kas Antam.

Untuk komoditas bijih nikel, ANTM  volume produksi bijih nikel unaudited perusahaan yang digunakan sebagai bahan baku feronikel ANTAM dan penjualan kepada pelanggan domestik tercatat sebesar 5,34 juta wet metric ton (wmt) pada sepanjang semester I 2021 lalu. Angka ini meningkat signifikan sebesar 287% dibandingkan dengan capaian produksi pada semester I 2020 yang sebesar 1,38 juta wmt.

Adapun volume penjualan bijih nikel unaudited ke pasar domestik mencapai 3,66 juta wmt di semester I 2021, tumbuh signifikan lebih dari 21 kali dibandingkan capaian penjualan pada semester I 2020 yang sebesar 168 ribu wmt.

Sementara itu, volume produksi unaudited feronikel Antam tercatat sebesar 12.679 ton nikel dalam feronikel (TNi) di semester I 2021, relatif stabil jika dibandingkan dengan capaian pada semester pertama tahun 2020.  Realisasi penjualannya berjumlah 12.068 TNi pada semester I 2021. Produksi feronikel ANTAM sepenuhnya diserap oleh pasar ekspor di luar negeri.

ANTM belum merilis laporan keuangan semester pertama 2021. Namun, manajemen memastikan bahwa kinerja produksi dan penjualan ANTM di sepanjang semester pertama 2021 secara umum masih berjalan sesuai rencana.

“Pada semester pertama tahun 2021, kinerja produksi dan penjualan ANTAM secara umum berjalan sesuai dengan rencana kerja tahun 2021,” terang manajemen ANTM dalam keterangan tertulis.

Sumber: KONTAN

Read More

Baru Cetak Rekor, Harga Nikel Langsung Tekor!

NIKEL.CO.ID – Harga nikel terkoreksi pada perdagangan awal pekan ini. Investor melakukan ambil untung (profit taking) setelah harga komoditas ini menyentuh rekor tertinggi sejak 2014.

Pada Senin (13/9/2021) pukul 09:09 WIB, harga nikel tercatat US$ 20.240/ton. Turun 0,83% dibanding harga penutupan akhir pekan lalu.

nikel
Sumber: investing.com

Koreksi ini cukup wajar melihat harga nikel sudah naik 4,5% pada perdagangan tiga hari terakhir. Pergerakan nikel sendiri masih diselimuti oleh katalis positif dari permintaan EV yang melonjak dan persediaan nikel yang menipis.

Penjualan mobil listrik dunia pada semester-I 2021 sebesar 2,6 juta kendaraan. Meroket 160% year-on-year (yoy) mengutip laporan terbaru Canalys. Penjualan ini diproyeksikan masih terus bertumbuh ke depan.

Dikutip dari laporan International Energy Agency (IEA), pada 2030 penggunaan kendaraan Listrik diperkirakan akan meningkat menjadi 22 juta unit, atau melonjak 850,9% dibandingkan 2020. Hal ini didukung oleh komitmen beberapa negara untuk mengurangi emisi karbon, dan ekspektasi tren penurunan harga mobil listrik di masa mendatang.

Sementara itu, cadangan nikel saat ini terus menipis. Per 9 September 2021, cadangan nikel di gudang LME (London Metal Exchange) tercatat 181.368 ton. Turun 23% dibandingkan cadangan 9 September 2020.

Secara rata-rata cadangan nikel pada September 2021 turun 24.86% point-to-point dibandingkan cadangan awal tahun pada bulan Januari 2021.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More
Ilustrasi: Penampakan MV Nur Allya

Nikel Sumbang Hampir Tiga Perempat Nilai Ekspor Sulsel

NIKEL.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat Jepang menjadi negara tujuan ekspor terbesar untuk sejumlah komoditas unggulan dari Sulsel pada Juli 2021.

“Kalau berdasarkan negara tujuannya yang paling besar pertama itu Jepang. Nilai transaksi untuk Jepang itu mencapai 81,42 juta dolar Amerika Serikat (AS),” ujar Kepala BPS Sulsel Suntono di Makassar, Minggu 12 September 2021.

Beberapa komoditas yang diekspor ke Jepang adalah nikel, hasil laut seperti udang, ikan dan hewan air yang tidak bertulang belakang serta rempah-rempah, dengan ekspor terbesar adalah nikel.

Selain Jepang, negara tujuan ekspor lainnya yakni Tiongkok, Malaysia, Timor Leste dan Taiwan.

“Secara persentase untuk lima negara tujuan itu tercatat ada sekitar 97,1 persen kontribusinya, sedangkan 2,99 persen lebihnya dari gabungan negara-negara tujuan ekspor lainnya,” katanya.

Suntono merinci nikel selalu jadi primadona ekspor Sulsel dan berhasil menyumbangkan angka 77,23 juta dolar AS atau sekitar 72,17 persen persen dari seluruh nilai ekspor.

Nilai ekspor nikel pada bulan sebelumnya lebih rendah dari Juli 2021 yakni 63,01 juta dolar AS atau terdapat selisih 14,22 juta dolar AS.

Negara selain Jepang seperti Tiongkok menyumbang dengan 17,87 juta dolar AS (16,7 persen); Malaysia dengan nilai 2,39 juta dolar AS (2,23 persen); Timor Leste dengan nilai 1,79 juta dolar AS (1,67 persen) dan Taiwan dengan nilai 1,13 juta (1,05 persen) dari total nilai ekspor Sulawesi Selatan.

Adapun komoditas unggulan lainnya seperti biji-bijian berminyak dan tanaman obat menyumbang angka 9,99 juta dolar AS atau sekitar 9,33 persen.

Komoditas lainnya yakni garam, belerang dan kapur menyumbang sekitar 2,84 juta dolar AS atau 2,65 perse; serta besi dan baja dengan menyumbang 2,59 juta dolar AS atau setara 2,42 persen.

Ia menyatakan dari seluruh komoditas ekspor, Sulsel masih tetap mengandalkan komoditas nikelnya karena kontribusinya yang hampir tiga perempat nilai ekspor.

Sumber: tempo.co

Read More