Potensi Logam Tanah Jarang di Nikel Indonesia

NIKEL.CO.ID – Seperti halnya negara lain, Indonesia juga memiliki logam tanah jarang super langka pada komoditas tambangnya. Tidak hanya di daerah yang kaya akan timah, ternyata Indonesia juga memiliki potensi logam tanah jarang yang terkandung di dalam laterit nikel.

Potensi logam tanah jarang yang terdapat di endapan nikel, tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti Parmonangan, Tapanuli, Sumatera Utara, Ketapang, Kalimantan Barat, Taan, Sulawesi Barat, dan Banggai, Sulawesi Tengah.

Adapun sumber daya logam tanah jarang dari beberapa daerah tersebut mengandung 20.579 ton.

Seperti yang diketahui, logam tanah jarang bisa diperoleh dari produk hasil smelter nikel berteknologi atau High Pressure Acid Leaching (HPAL). Produk utama smelter HPAL yang berupa Mixed-Hydroxide Precipitate (MHP) dan Mixed-Sulphide Precipitate (MSP) dapat digunakan sebagai komponen baterai.

Adapun cadangan terbukti nikel di Indonesia yang bisa diolah dengan smelter HPL ini mencapai 359 juta ton.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI mengatakan, Indonesia berpotensi menghasilkan 1.324 ton logam tanah jarang unsur skandium dari investasi smelter HPAL yang bernilai US$6,25 miliar.

Investasi yang menghasilkan logam tanah jarang ini membutuhkan bijih nikel hingga sekitar 32 juta ton per tahun.

Keberadaan logam tanah jarang unsur skandium sebenarnya secara geokimia sangat sulit ditemukan dalam jumlah besar, sehingga produksinya sangat terbatas.

Menurut Data Kementerian ESDM, pasokan skandium oksida hanya 5-12 ton per tahun dengan harga yang tidak stabil sekitar US$2.000-4.500 per kg. Sementara kebutuhan per tahun untuk logam tanah jarang ini mencapai 12-14 tahun.

Oleh karena itu, masih diperlukan kegiatan eksplorasi untuk mengetahui jumlah pasti dari sumber daya dan cadangan logam tanah jarang unsur skandium, khususnya dari nikel laterit di Indonesia.

Sumber: ilmutambang.com

Read More

Sedikit Lagi Harga Nikel Tembus Rekor

NIKEL.CO.ID – Harga nikel naik pada perdagangan sore ini. Ada harapan harga bisa naik hingga menembus rekor harga tertinggi di US$ 21.174/ton yang terjaga sejak 12 Mei 2014.

Pada perdagangan Rabu (8/9/2021) pukul 16:20 WIB, harga nikel tercatat di US$ 19.620/ton. Naik 0,4% dari posisi kemarin.

nikel

Sumber: investing.com

 

Harga nikel masih dibayangi sentimen positif dari ekspansi mobil listrik. Ekspansi mobil listrik mendongkrak permintaan nikel global hingga 18% pada 2021 dari tahun lalu.

Pulihnya permintaan nikel produk untuk pembuatan stainless steel juga berlanjut sampai akhir tahun paska lockdown. Gangguan distribusi karena Covid-19 membuat konsumen pun harus memesan jauh-jauh hari untuk mengamankan pasokan.

Dari sisi suplai, persediaan nikel mentah di gudang ShFE anjlok 89% dari awal tahun menjadi 4.455 ton. Begitu juga dengan stok di gudang LME jatuh menyentuh angka terendahnya sejak Januari 2020 di level 194.466 ton.

Tingginya permintaan namun tidak diimbangi oleh persediaan yang cukup membuat logam nikel menjadi langka. Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi nikel global.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Vale Indonesia Kaji Bijih Limonit untuk Bahan Baku Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus mendukung pengembangan kendaraan listrik. Bahkan, perseroan sedang mengkaji mineral baru yang bisa digunakan untuk pengembangan industri tersebut.

Presiden Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy menjelaskan, sebagai perusahaan tambang nikel, perseroan fokus pada sisi hulu. Begitu juga dalam pengembangan mobil listrik, perseroan akan mendukung penyediaan bahan bakunya.

“Komoditas yang sedang dikaji untuk mendukung pengembangan industri tersebut adalah bijih limonit,” kata Febriany dalam acara Konferensi Pers Public Expose Live, Rabu (8/9/2021).

Menurut Febriany, bijih limonit atau bijih nikel berkadar rendah ini cocok untuk mendukung mobil listrik. Namun sayangnya, perseroan tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai kajian ini dan akan memberitahukan kelanjutan kajian tersebut tahun depan.

Selain mengkaji bijih limonit, perseroan tengah mempersiapkan pabrik smelter atau fasilitas pengolahan nikel Bahodopi di Sulawesi Tengah dan Pomalaa di Sulawesi Tenggara. Pabrik tersebut akan menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate (MHP) dan Mix Sulphide Precipitate (MSP) yang akan menjadi bahan baku komponen baterai dalam mobil listrik.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur Vale Indonesia Ardiansyah Chaniago mengatakan, sejauh ini, perseroan sudah menggandeng dua mitra strategis asal Tiongkok, Taiyuan Iron & Steel (Group) Co Ltd (Taigang) dan Shandong Xinhai Technology Co Ltd, untuk menggarap fasilitas pengolahan nikel Bahodopi. Kemudian, perseroan juga tengah mengurus perizinan terkait analisis dampak lingkungan (Amdal) untuk fasilitas pengolahan Pomalaa.

“Awal tahun depan, kami harapkan izin untuk fasilitas di Pomalaa telah dilengkapi, sehingga bisa masuk ke tahap konstruksi. Begitu juga dengan fasilitas di Bahodopi, diharapkan bisa mendapatkan final investment decision (FID) pada akhir tahun ini atau awal tahun depan,” kata dia.

Chief Financial Officer Vale Indonesia Bernardus Irmanto menambahkan, tahap konstruksi untuk pabrik HPAL (high pressure acid leaching) ini cukup panjang, sehingga pabrik tersebut diperkirakan mulai beroperasi sekitar tahun 2026.

Hingga kuartal II-2021, Vale Indonesia mencatat penjualan US$ 208,4 juta dengan volume 15.845 ton nikel matte. Volume penjualan tersebut meningkat 7% dari kuartal I-2021, di tengah realisasi harga nikel yang lebih rendah pada kuartal II-2021.

EBITDA pada kuartal II-2021 mencapai US$ 72,3 juta, lebih rendah 18,67% dari kuartal I-2021 yang mencapai US$ 88,9 juta. Penurunan ini disebabkan oleh biaya yang lebih tinggi dan realisasi harga rata-rata nikel yang lebih rendah. Akibatnya, laba perseroan pada kuartal II-2021 menurun 25,51% menjadi US$ 25,1 juta dari US$ 33,7 juta pada kuartal I-2021.

Sumber: investor.id

Read More

Alasan Menteri Bahlil Bangun Pabrik Baterai Sel Duluan Ketimbang Smelter

NIKEL.CO.ID – Pembangunan pabrik baterai sel (cell battery) untuk kendaraan listrik dari konsorsium LG di Bekasi, Jawa Barat, akan dimulai 15 September 2021. Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan pembangunan ini adalah salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah nikel yang jadi salah satu bahan baku.

“Jadi kami mau mulainya bukan dari hulu, tapi dari hilir,” kata Bahlil dalam webinar di Jakarta, Rabu, 8 September 2021.

Sehingga, kata Bahlil, pemerintah mendorong pembangunan pabrik baterai sel terlebih dahulu, bukan smelter (pabrik pengolahan) nikel. “Karena kalau dari smelternya, tidak menutup kemungkinan, barang setengah jadi kita kirim,” kata dia.

Awalnya, pemerintah melarang ekspor bijih nikel per 1 Januari 2020. Ini bagian dari rencana pemerintah membangun industri baterai kendaraan listrik di tanah air. Sehingga, produsen nikel kini mengirim produksi nikel mereka ke smelter.

Di sisi lain, proyek bateri kendaraan listrik pun dimulai setelah adanya MoU antara Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan konsorsium LG pada Desember 2020. Konsorsium ini terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO, dan Huayou Holding.

Mereka akan bermitra dengan IBC yang beranggotakan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, dan PT Perusahaan Listrik Negara. Lalu, IBC juga bermitra dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China.

Total nilai investasi dari proyek ini yaitu US$ 9,8 miliar. Pabrik pun akan dibangun di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah.

Tapi untuk tahap pertama, proyek justru akan dimulai terlebih dahulu dengan membangun pabrik baterai sel di Kota Deltamas, Bekasi, Jawa Barat. Ini adalah salah satu komponen dari bateri untuk kendaraan listrik. Tanya hanya LG, proyek di Bekasi ini juga akan melibatkan Hyundai Motor Company, KIA Corporation, dan Hyundai Mobils.

Pabrik baterai sel akan dibangun dengan kapasitas 10 Gigawaat Hour (GWH). Rencananya, hasil produksi akan digunakan oleh kendaraan listrik dari Hyundai. Adapun dana investasi yang dikeluarkan untuk tahap awal ini yaitu sebesar US$ 1,2 miliar.

Barulah nantinya, pabrik bateri sel di Bekasi ini akan mendapat pasokan katoda dan precursor dari pabrik yang dibangun di Batang. Lalu, mereka juga akan didukung dengan kehadiran smelter nikel.

Sumber: tempo.co

Read More

Kuasai 20 Persen Cadangan Nikel Dunia, RI Bakal Jadi Produsen Baterai Mobil Terbesar

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, menginginkan Indonesia menjadi salah satu negara produsen terbesar baterai mobil. Sebab, 20 persen cadangan nikel di dunia berada di Indonesia.

“Cadangan nikel di dunia, 20 persen ada di Indonesia. Alhamdulillah kita ingin Indonesia menjadi salah satu negara produsen terbesar untuk pembangunan baterai mobil,” kata Bahlil dalam sambutannya di webinar Indef, Rabu (8/9/2021).

Impian tersebut dilatarbelakangi karena saat ini dunia sudah mulai meninggalkan fosil sebagai bahan bakar dan beralih ke energi baru terbarukan. Kebetulan, Indonesia memiliki cadangan nikel sebanyak 20 persen, tentu peluang ini bisa dimanfaatkan.

“Secara kebetulan dunia sekarang sudah menuju meninggalkan fosil dan beralih ke energi baru terbarukan. Sekarang yang lagi dibutuhkan dunia itu adalah nikel,” imbuhnya.

Menurutnya, sumber daya Nikel merupakan anugrah yang diberikan Tuhan kepada Indonesia, yang bisa dijadikan sebagai bahan baku untuk membangun baterai mobil.

“Nikel ini ternyata Ini adalah sebuah anugrah dari Allah yang diberikan ke Indonesia yang dijadikan bahan baku untuk membangun baterai mobil,” ujarnya.

Indonesia memang kaya dengan sumber daya alamnya, seperti tambang emas, kayu, perikanan dan sebagainya. Namun, dalam pengelolaanya masih belum banyak perusahaan besar yang masuk menjadi pemain untuk berinvestasi.

“Kita pernah punya masa kejayaan sumber daya alam kayu log, kayu kita luar biasa tapi tidak pernah perusahaan besar yang masuk menjadi pemain dunia untuk mebel. Kita pernah punya masa kejayaan juga adalah tambang emas tapi sampai sekarang hilirasasinya masih seperti itu,” ujarnya.

Sumber Daya Nikel

Kendati demikian, pihaknya kini optimis dengan sumber daya nikel yang ada di Indonesia bisa dikelola dengan baik. Hal itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan LG Energy Solution di Seoul, Korea Selatan pada 18 Desember 2020.

MoU tersebut berisi tentang kerjasama proyek investasi raksasa dan strategis di bidang industri sel baterai kendaraan listrik terintegrasi dengan pertambangan, peleburan (smelter), pemurnian (refining) serta industri prekursor dan katoda dengan nilai rencana investasi mencapai USD 9,8 miliar atau setara Rp 142 triliun.

Sumber: liputan6.com

Read More