Di Depan Bahlil, Andre Tuding Smelter China Zalim!

NIKEL.CO.ID – Perdebatan sengit terjadi antara Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade dengan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam rapat kerja Komisi VI DPR bersama Kementerian Investasi/BKPM di ruang rapat kerja Komisi VI DPR RI, Jakarta, Senin (30/8/2021).

Selain isu perizinan pabrik semen, persoalan nikel Indonesia turut menjadi topik perdebatan Andre dan Bahlil.

Menurut Andre, persoalan antara pengusaha lokal dengan pemilik pabrik pemurnian (smelter) asal China masih saja menimbulkan rasa ketidakadilan bagi pengusaha lokal. Pengusaha nikel lokal masih terus dizalimi dengan berbagai cara.

“Saya berikan solusi ke pak Bahlil kita win win aja kalau dianggap sampah sama smelter Tiongkok (China) itu. Yang sampah itu kita ekspor saja. Jadi pengusaha kita tidak rugi negara kita tidak rugi… jangan sampai smelter Tiongkok itu mengatur kita,” ujar Andre.

Bahlil lantas merespons permintaan Andre. Ia mengungkapkan kalau dirinya merupakan mantan pengusaha nikel.

“Waktu proses untuk bagaimana menghentikan ekspor nikel, empat hari saya masuk menjadi kepala BKPM dan kami mengusulkan untuk ekspor nikel (dihentikan) dan kemudian itu terjadi. Harapan kita adalah agar terjadinya hilirisasi tetapi saudara-saudara kita teman-teman kita yang melakukan nikel ini dibeli dengan harga yang pantas. Itulah kemudian munculah PM, ada satgas khusus pengawalan untuk harga HPM,” ujar Bahlil

“Yakinlah bahwa sampai kapanpun idealisme kita untuk bagaimana mendukung teman-teman dalam negeri itu sesuatu yang sangat prioritas,” lanjutnya

Menanggapi penjelasan dari Bahlil, Andre mengatakan tidak pernah meragukan terhadap idealisme seorang Bahlil. Andre hanya ingin memberikan solusi serta masukan agar pengusaha lokal bisa memiliki posisi tawar tinggi terhadap smelter China agar sumber daya alam RI tidak dikuasai oleh China.

 

Read More

Timur Terang

Oleh: Dahlan Iskan

KUBURAN uang itu akan bangkit dari dalam tanah nikel. Anak bangsa baru saja menemukan teknologinya.

Saya kenal baik anak itu –kini berumur 55 tahun. Dua kali saya rapat dengan anak itu delapan tahun lalu. Yakni di awal ide melahirkan mobil listrik nasional.

Saya juga kenal begitu banyak pengusaha yang ”tewas” akibat terlalu banyak menanam uang di tambang nikel. Di Sulawesi Tengah dan Tenggara. Banyak juga pengusaha bertengkar akibat kongsi di bisnis nikel. Pun sampai ke pengadilan.

Belum lagi yang merasa ditipu sesama teman pengusaha. Lokal menipu nasional. Nasional menipu internasional. Dan sebaliknya.

Pokoknya Sulteng dan Sultra akhirnya saya kenal sebagai kuburan uang. Triliunan rupiah. Tanpa harapan.

Lalu begitu banyak orang yang mengajukan penawaran kepada saya. Untuk membeli kuburan itu. Atau kerja sama. Saya menolak. Saya sudah terlalu tua untuk menjadi penggali kuburan seperti itu.

Sampai akhirnya muncullah perusahaan raksasa asing di sana. Di Morowali. Yang sangat mengagumkan itu.

Banyak pengusaha lokal-nasional gigit jari: hanya bisa menonton Morowali. Sambil merenungkan kuburan uangnya.

Tapi mendung tidak akan terus menerus berada di satu tempat. Sebentar lagi mendung di atas kuburan itu akan bergeser. Mendung tidak akan lagi menggelayut di situ.

Maka janganlah bersedih lagi.

Sudah lahir anak bangsa yang menemukan teknologi untuk ”membongkar kuburan uang” itu.

Namanya: Widodo Sucipto.

Tempat lahir: Porong, Jatim. Berarti Widodo ini sekampung dengan Inul Daratista.

Inul ngebor dangdut. Widodo ngebor nikel.

Widodo Sucipto bersama Disway, delapan tahun lalu, saat mendiskusikan baterai mobil listrik.

Kuburan uang itu terjadi akibat lahirnya UU Nikel di tahun 2009. Pemerintah, di tahun 2013, seperti hampir lupa: bahwa di tahun 2014, UU tersebut sudah harus dilaksanakan. Batas waktu lima tahun tinggal 24 bulan.

Maka harus diapakan buah simalakama itu: tidak dilaksanakan melanggar UU, dilaksanakan belum siap.

Inti UU itu sebenarnya mulia sekali. Bagi bangsa. Ekspor bahan mentah nikel (tanah mengandung nikel) dilarang. Harus diolah di dalam negeri.

Keputusan di tahun 2013 itu: UU tetap harus dilaksanakan.

Para pengusaha pun heboh: tidak siap. Investasi untuk mengolah nikel itu mahal. Membangun smelter itu perlu waktu setidaknya tiga tahun. Itu pun kalau pakai teknologi yang sederhana, yang sangat merusak lingkungan.

Pemerintah lengah: tidak sejak awal memberi penegasan bahwa UU tersebut pasti dilaksanakan.

Pengusaha juga lengah: mengira pemerintah tidak akan tegas. Mereka mengira pelaksanaan UU itu bisa ditunda.

Akibat UU tersebut: lahirlah kuburan uang di lahan nikel. Para pengusaha tidak bisa ekspor bahan baku. Juga tidak punya pabrik pengolah (smelter).

Korban terbesar adalah: PT Antam. Milik BUMN. Langsung klepek-klepek. Sampai sekarang.

Proyek besar smelternya di Halmahera kandas. Larangan ekspor itu membuat PT Antam tiba-tiba tidak punya dana untuk meneruskan proyek itu. Padahal sudah telanjur membangun pelabuhan besar di Halmahera. Nganggur.

Ratusan pengusaha tambang bernasib sama: tidak bisa lagi ekspor bahan mentah nikel. Juga tidak bisa membangun smelter.

Saya setuju: ekspor bahan mentah itu memang harus dilarang. Tidak masuk akal. Sudah puluhan tahun. Kita telanjur terlalu lama jual tanah air –dalam pengertian fisik.

Tiap satu ton tanah yang mengandung nikel itu, nikelnya hanya 8 kg. Bahkan untuk tanah permukaan, nikelnya hanya 1 sampai 2 kg. Tanah permukaan itu tidak efisien untuk diolah. Harus disingkirkan. Tebal tanah permukaan itu sampai 6 meter. Baru di bawah 6 meter, kadar nikelnya bisa 8 persen.

Ada juga, memang, satu dua pengusaha memaksakan diri membangun smelter. Kecil-kecilan. Selebihnya hanya bisa merenungi kuburan uang mereka.

Banyak juga di antara mereka yang memilih bertengkar. Merasa ditipu. Atau saling menipu. Pun ada yang sampai ke pengadilan.

Kini telah lahir teknologi baru pengolahan nikel. Yang lebih murah. Yang lebih ramah lingkungan. Yang sangat efisien.

Penemunya Inul Daratista –tetangganya: Widodo Sucipto tadi.

Teknologi lama: tanah yang mengandung nikel itu dibakar. Agar nikelnya terpisah dari tanah.

Teknologi Widodo: tanah itu dipanaskan tanpa dibakar.

Caranya: tanah dimasukkan kiln, dipanasi sampai 700 derajat.

Hasilnya bisa sama: tiap 100 ton tanah bahan baku menghasilkan 8-15 ton nikel.

Widodo menamakan teknologinya itu STAL –singkatan dari Step Temperature Acid Leach.

Kunci keunggulannya: biaya investasinya jauh lebih murah. Bisa 30 kali lebih murah. Bukan lagi langit dan bumi –tapi langit dan sumur.

Investasi sistem lama (Hpal) memerlukan biaya Rp 15 triliun. Dengan teknologi Widodo hanya Rp 4,5 triliun. Untuk kapasitas yang sama. Masih pun memiliki banyak kelebihan lain.

Satu smelter Hpal berkapasitas 6.000 ton bahan baku per hari. Satu modul STAL 600 ton/hari. Kapasitas Hpal memang 10 kali lipat. Tapi biaya investasi Hpal lebih dari tiga kali lipat.

Menurut Widodo, di samping jauh lebih murah, teknologi STAL lebih cocok untuk Indonesia.

Modul 1 pabrik STAL “hanya” berkapasitas 600 ton/hari (bahan baku). Akan banyak pengusaha nasional yang mampu mengerjakan. Pemilik tambang kecil-kecil bisa memiliki smelter sendiri. Kalau toh harus bergabung cukup 5 atau 6 pemilik tambang sudah bisa membangun 1 pabrik.

Pengusaha lokal hampir mustahil mampu membangun smelter nikel dengan teknologi Hpal. Itu kelasnya perusahaan global.

Maka kuburan investasi nikel di Sulteng dan Sultra menemukan jalan baru. Widodo telah menemukan jalan keluarnya.

Widodo –Alhamdulillah, Puji Tuhan– telah menerbitkan matahari di atas kuburan nikel terbesar di dunia. (Dahlan Iskan)

Sumber: disway.id

Read More

Tiga Hal Soal Smelter China di RI Dituding Zalim

NIKEL.CO.ID – Smelter pengolahan nikel milik China di Indonesia dicap telah berbuat zalim terhadap pengusaha nikel nasional. Tudingan tersebut dilontarkan oleh Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade. Apa penyebabnya?

1. Hasil Survei Kadar Nikel Janggal

Andre melihat adanya kejanggalan. Sebab ketika ore nikel yang ditambang pengusaha nasional berdasarkan hasil survei memiliki kadar 1,87%, setelah dicek oleh pihak surveyor dari pihak semelter kadarnya turun. Tentu saja semakin rendah kadarnya semakin murah pula harganya.

“Permasalahannya ini yang perlu kita garisbawahi bahwa setelah disurvei sama Sucofindo dan Surveyor Indonesia misalnya kandungan ore-nya 1,8% eh tiba-tiba di smelter itu jadi 1,5% dan semua pengusaha berteriak,” katanya dalam rapat kerja dengan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Senin (30/8/2021).

Andre sampai bertanya kepada pihak surveyor apakah mungkin nikel dengan kadar 1,87% ketika disurvei ulang bisa turun menjadi 1,5%. Jawaban yang dia terima bahwa mineral jika kadarnya turun dari 1,87% paling jauh menjadi 1,86% sampai 1,85%, tidak mungkin jadi 1,6% atau bahkan 1,5%.

2. Sarankan Keran Ekspor Dibuka

Dia berharap Bahlil sebagai Menteri Investasi memikirkan isu tersebut dan membahasnya dalam rapat terbatas (ratas). Dia mengingatkan jangan sampai smelter-smelter China ini semena-mena terhadap sumber daya alam Indonesia yang seharusnya dirasakan dan dinikmati oleh rakyat Indonesia.

Andre menyarankan agar Kementerian Investasi mempertimbangkan keran ekspor ore nikel yang saat ini ditutup untuk dibuka kembali.

“Nah, saya ingin memberikan solusi kepada Pak Bahlil, ini kan bentuk kezaliman. Nah, saya usulkan ke Pak Bahlil kita win-win saja, kalau (nikel yang dijual pengusaha) dianggap sampah sama smelter Tiongkok itu yang sampah itu kita ekspor saja,” jelas Andre.

3. Pemerintah Bakal Tindaklanjuti

Bahlil setuju dengan Andre bahwa kepentingan dalam negeri harus diutamakan. Pihaknya juga berupaya agar nikel yang ditambang oleh pengusaha nasional bisa dihargai secara pantas oleh pemilik semelter.

“Itu sudah ada satgas khusus untuk pengawalan terhadap harga HPM (Harga Patokan Mineral). Nanti coba saya akan bicarakan, Pak Andre, dengan teman-teman satgas untuk meng-clear-kan ini. Tapi yakinlah bahwa sampai kapanpun idealisme kita untuk mendukung teman-teman dalam negeri itu sesuatu yang sangat prioritas,” tegas Bahlil.

Sumber: detik.com

Read More

Harta Karun Super Langka Ini Ada di Nikel RI Lho!

NIKEL.CO.ID – Indonesia ternyata menyimpan “harta karun” super langka yang diincar banyak negara karena manfaatnya yang luar biasa di era modern saat ini, mulai dari bahan baku peralatan elektronika, baterai, telepon seluler, komputer, bahkan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan hingga kendaraan listrik dan peralatan militer atau industri pertahanan.

“Harta karun” super langka ini yaitu logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element. Komoditas ini dinamai logam tanah jarang karena didasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa keberadaan logam tanah jarang ini tidak banyak dijumpai. Namun pada kenyataannya, LTJ ini melimpah, melebihi unsur lain dalam kerak bumi.

Mengutip buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM 2019, logam tanah jarang (LTJ) merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk “critical mineral” yang terdiri dari 17 unsur, antara lain scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

Tidak hanya ada di daerah kaya akan timah, ternyata logam tanah jarang ini juga terkandung di dalam laterit nikel.

Sejumlah mineral yang mengandung LTJ seperti monasit, zirkon, dan xenotim, merupakan mineral ikutan dari mineral utama seperti timah, emas, bauksit, dan laterit nikel.

Di Indonesia, mengutip buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM 2019, untuk endapan lateritik terdapat di beberapa wilayah seperti Parmonangan, Tapanuli, Sumatera Utara, Ketapang, Kalimantan Barat, Taan, Sulawesi Barat, dan Banggai, Sulawesi Tengah.

Adapun sumber daya LTJ dari endapan lateritik yang diteliti dari beberapa wilayah tersebut mengandung 20.579 ton.

Selain itu, berdasarkan data Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batu Bara (Puslitbang Tekmira) Kementerian ESDM, logam tanah jarang ini, termasuk unsur scandium, neodymium, dan dysprosium, bisa diperoleh dari produk samping hasil smelter nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di mana produk utama smelter HPAL ini bisa berupa Mixed-Hydroxide Precipitate (MHP) dan Mixed-Sulphide Precipitate (MSP) yang merupakan salah satu komponen untuk baterai.

Adapun cadangan terbukti bijih nikel limonit di Indonesia yang bisa diolah dengan smelter HPAL ini mencapai 359 juta ton.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), RI diperkirakan akan mendapatkan investasi mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) untuk sederet proyek bahan baku baterai atau smelter HPAL ini.

Jumlah investasi tersebut berasal dari enam proyek smelter HPAL yang kini tengah dibangun. Diperkirakan, proyek ini membutuhkan bijih nikel hingga sekitar 32 juta ton per tahun.

Adapun dari proyek smelter HPAL tersebut diperkirakan dapat menghasilkan 1.324 ton scandium, salah satu unsur logam tanah jarang.

Keberadaan scandium secara geokimia sangat sulit ditemukan dalam jumlah besar, sehingga produksinya sangat terbatas. Menurut Kaya (2019), dikutip dari data Ditjen Minerba Kementerian ESDM, pasokan dunia untuk scandium oksida (Sc2O3) hanya 5-12 ton per tahun dengan harga yang tidak stabil sekitar US$ 2.000-4.500 per kg atau sekitar Rp 29 juta-Rp 65 juta per kg untuk kemurnian 99,9% Sc2O3 ini. Sementara kebutuhan per tahun mencapai 12-14 ton per tahun.

Smelter HPAL telah diaplikasikan di sejumlah negara seperti Filipina, Madagaskar, Kuba, Australia, Papua Nugini, Turki, hingga Kaledonia Baru (Kaya, 2019).

Berdasarkan data Tekmira, hampir 90% scandium akan terlarut pada saat proses HPAL ini. Dalam bijih laterit nikel, ada 52 ppm skandium, 18 ppm neodyimium, 60 ppm praseodimium, dan 8 ppm dysprosium.

Scandium ini bisa dijadikan sebagai bahan baku keramik, laser, pencahayaan, hingga peralatan militer, olahraga, dan dirgantara.

Namun sayangnya, data saat ini baru berupa potensi keterdapatan, belum terdapat informasi jumlah sumber daya dan cadangan logam tanah jarang, khususnya scandium di Indonesia.

Oleh karena itu, masih diperlukan kegiatan eksplorasi untuk mengetahui jumlah pasti dari sumber daya dan cadangan scandium dan logam tanah jarang, khususnya dari nikel laterit di Indonesia.

Berikut daftar 6 proyek smelter nikel HPAL yang tengah dibangun di Indonesia:

1. PT Kolaka Nickel Industry
2. PT Huayue Bahodopi di Morowali, Sulawesi Tengah.
3. PT QMB Bahodopi, di Morowali, Sulawesi Tengah.
4. PT Halmahera Persada Lygend (telah beroperasi) di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
5. PT Smelter Nickel Indonesia di Banten.
6. PT Gebe Industry Nickel

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Dinas ESDM Maluku Utara Luncurkan SIMANTAB

NIKEL.CO.ID – Dinas Energi Sumber Daya Mineral (Dinas ESDM) Provinsi Maluku Utara (Malut) resmi meluncurkan website SIMANTAB (Sistem Informasi Manajemen Monitoring Pertambangan).

SIMANTAB merupakan proyek perubahan Kepala Dinas ESDM Provinsi Maluku Utara, Hasyim, yang diluncurkan oleh Sekretaris Daerah, Samsuddin A Kadir.

Acara yang diadakan di Taman Orange Ternate, pada Minggu (29/8/2021) juga dihadiri Kepala Biro Administrasi Pimpinan, Rahwan K Kasuamba beserta Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman, Direktur Intelkam Polda Malut beserta sponsorship dalam kegiatan yang dilaksanakan di Taman Benteng Orange Ternate, Minggu (28/8/2021). 

Samsuddin A Kadir menyampaikan bahwa SIMANTAB merupakan strategis Dinas ESDM Provinsi Maluku Utara dalam perkembangan teknologi serta kebijakan Kementerian ESDM yang telah mengembangkan Sistem Minerba Online Monitoring System (MOMS) pertambangan yang ada di Indonesia.

Strategi pembangunan dan desain SIMANTAB juga mempertimbangkan pengguna baik pengguna dilingkup Pemprov Maluku Utara maupun pada stakeholder pertambangan di Provinsi Maluku Utara.

“Pengembangan aplikasi ini dilaksanakan dalam rangka membuat sistem monitoring terpadu kondisi pertambangan mineral di Provinsi Maluku Utara,” ujarnya.

Strategi ini diharapkan dapat meminimalisir kerugian dari daerah baik PAD maupun aspek lingkungan yang diaplikasikan dalam bentuk website agar dapat memudahkan semua kalangan untuk mengetahui informasi investasi pertambangan di Provinsi Maluku Utara.

Sementara Kadis ESDM Provinsi Malut, Hasyim dalam memaparkan mengatakan bahwa Maluku Utara merupakan provinsi bagian Timur Indonesia yang resmi terbentuk pada tanggal 4 Oktober 1999. Dengan luas wilayah sebesar 31.982,50 km2 dan membawahi 10 Kabupaten Kota, Maluku Utara memiliki berbagai potensi, salah satunya potensi di sektor Pertambangan.

Mantan Pj Wali Kota Ternate ini menuturkan, ada empat produk utama hasil pertambangan di Maluku Utara pada tahun 2020, yaitu; Biji Nikel dengan total produksi sebanyak 89.169.889 Wet Metric Ton, kemudian Biji Besi dengan total produksi 2.269.115 Wet Metric Ton dan Fero Nikel dengan produksi 208.398 Ton, serta Emas dengan Total Produksi sebanyak 145.937 Ton.

“Dengan adanya potensi tersebut dan peluang investasi di sektor pertambangan, Dinas ESDM Provinsi Maluku Utara telah mengeluarkan 108 Izin Usaha Pertambangan Mineral Logam,” jelasnya.

Namun, kata dia, kendala saat ini belum terdapat sistem pengawasan yang efektif dan efisien, sehingga berpeluang menyebabkan defisit PAD di sektor pertambangan, dikarenakan sistem yang belum terintegrasi.

“Untuk itulah, SIMANTAB hadir sebagai inovasi pembaruan di era Revolusi 4.0,” kata Hasyim.

Selaku Reformer, lanjut Hasym, kehadiran SIMANTAB diharapkan dapat memberikan kemudahan pengawasan, keterbukaan informasi bagi peningkatan investasi dan PAD demi kesejahteraan masyarakat Maluku Utara.

“Kita tahu bersama masyarakat sulit mengakses informasi potensi pertambangan di Maluku Utara. Dengan adanya aplikasi SIMANTAB dapat mempermudah investor pertambangan serta masyarakat dalam update informasi pertambangan di daerah ini,” tuturnya.

Peluncuran website SIMANTAB ini tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, seluruh tamu undangan diwajibkan menggunakan masker dan menjaga jarak.

Sumber: timesindonesia.co.id

Read More

Media Asing Soroti Kelakuan TKA China Santap Buaya di Sulawesi Tenggara

NIKEL.CO.ID – Sejumlah tenaga kerja asing (TKA) asal China yang bekerja di industri tambang nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara, kedapatan menguliti seekor buaya berukuran 3 meter untuk dijadikan santapan.

Video yang merekam aksi para TKA China itu sempat beredar luas di media sosial.

Media asal China, South China Morning Post (SCMP), turut memberitakan peristiwa ini.

Pada 27 Agustus 2021, SCMP menerbitkan berita berjudul ‘Chinese workers in Indonesia face five years in jail after killing, eating protectected crocodile (Pekerja asal China di Indonesia menghadapi hukuman 5 tahun penjara setelah membunuh dan menyantap buaya dilindungi).

Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara langsung mengusut para pelaku karena buaya termasuk hewan yang dilindungi.

BKSDA menggandeng aparat penegak hukum untuk menyelidiki peristiwa tersebut.

Terkait kasus ini, manajemen PT Obsidian Stainless Steel (OSS) menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.

Menurut juru bicara perusahaan, Tommy, para TKA China itu tidak mengetahui bahwa buaya termasuk hewan yang dilindungi di Indonesia.

“Jadi buaya tersebut akan dikonsumsi oleh mereka dan untuk aturan buaya dilarang dibunuh mereka tidak tahu,” sebut Tommy dikutip Pikiran-rakyat.com dari Antara pada 26 Agustus 2021.

Tommy menuturkan, para TKA China mendapatkan buaya tersebut dari warga di Konawe.

“Jadi TKA mendapatkan binatang buas itu dari masyarakat yang menjual, di mana setelah masyarakat menangkap buaya itu kemudian menawarkan kepada TKA,” sebutnya.

Sumber: pikiran-rakyat.xom

Read More

APNI Berduka. Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia Berpulang

NIKEL.CO.ID – APNI Berduka. Komjen Pol (Purn) Drs. Insmerda Lebang Meninggal dunia.

Almarhum meninggal pada Sabtu, (28/08) pukul 11.30 WIB di usia ke-72, di RS Pondok Indah, setelah mengidap penyakit dalam lambung yang sudah lama.

“Seluruh pelaku penambang nikel Indonesia sangat berduka atas kehilangan sosok purnawirawan polisi Jenderal Bintang Tiga (3) yang tidak mau di panggil pak jenderal,” jelas informasi tersebut, (28/08).

Beliau bergabung di APNI pada 6 maret 2019. Melalui APNI beliau tidak pernah lelah berjuang untuk nikel Indonesia.

“Semangat yang tidak pernah padam untuk terus berjuang melawan ketidak adilan dalam Tata Niaga Nikel Indonesia khususnya dan Sumber Daya Alam Indonesia untuk menjadi pioneer dunia,” katanya.

“Pesan terakhir beliau pada saat melaporkan kegiatan APNI untuk Ketidakadilan Hasil Analisa Surveyor, pesan beliau ‘Lanjutkan’  dan bersurat resmi ke seluruh kementerian terkait. Ternyata ini adalah pesan terakhir beliau ke APNI,” sambung informasi tersebut.

Sosok yang sangat dibutuhkan dan menjadi teladan sebagai Jenderal yang tanpa pamrih berjuang demi NKRI.

“Seluruh pelaku penambang nikel Indonesia sangat kehilangan dan kami akan tetap berjuang demi cita-cita mulia mu. Selamat Jalan Ketua umum APNI. Kami bangga memiliki Ketua Umum yang super baik dan berjuang tanpa pamrih. Perjuanganmu akan tetap kami lanjutkan,” tutup informasi tersebut.

Sebagaimana diketahui, Insmerda Lebang menjabat sebagai Ketua Umum APNI periode 2017-2022.

Berikut Biodata Insmerda Lebang

Nama : Insmerda Lebang

Jenis Kelamin : Pria

Tempat Lahir : Rantepao

Tanggal Lahir : 27 Desember 1949

Agama : Kristen

Kewarganegaraan : Indonesia

Riwayat Pendidikan

Pendidikan Sarjana Kepolisian Tahun (1980)

Riwayat Jabatan
  • Perwira PKN (INTEL) KOMDAK VII Jaya (1973)
  • Perwira Pemeriksa RESKRIM (TEKAB) KOMDAK VII Jaya (1974-1975)
  • Kasi Operasi KOMTARRES 15.3 Timor Timur (1975-1979)
  • Kapolsek Ciputat KOMDAK VII Jaya (1977)
  • Satuan Bimmas KOMWILKO Tangerang KOMDAK VII Jaya (1978)
  • Sekretaris Pribadi Deputi KAPORLI (1980-1984)
  • Wakapolres Metro Jakarta Barat (1985)
  • Kaden Prov Polda Metro Jaya (1986-1987)
  • Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Polda Metro Jaya (1989-1990)
  • Kaporles Tangerang Polda Metro Jaya (1990-1991)
  • Kaporles Tangerang Polda Metro Jaya (1990-1991)
  • Kaporles Metro Jakarta Barat Polda Metro Jaya (1991-1994)
  • Wakil Kepala Sub Direktorat Reserse Ekonomi POLRI (1994-1995)
  • Kadit Serse Polda Sumatera Utara (1995-1996)
  • Direktur Pengkajian & Pengembangan Sespim Polri (1997-1998)
  • Direktur Tindak Pidana Tertentu Reserse POLRI (1998-1999)
  • Wakil Kepala Kepolisian Daerah Riau (1999-2000)
  • Direktur Pidana Umum Koserse POLRI (2000-2001)
  • Direktur Pidana Korupsi Korserse POLRI (2002)
  • Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (2002-2003)
  • Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Utara (2003-2004)
  • Gubernur Akademi Kepolisian (2003-2004)
  • Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah (2004)
  • Kepala Badan Pembinaan Keamanan POLRI (2004-2006)
  • Komisaris Utama PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (2007-2010)
  • Komisaris Utama PT Feron Tambang Kalimantan (2007-2008)
  • Komisaris Independen PT Timah (Persero) Tbk (2007-2008)
  • Komisaris Utama PT Timah (Persero) Tbk (2008-sekarang).
  • Komisaris Independen PT Garuda Indonesia Tbk
  • Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (2018-Sekarang)
  • Komisaris Utama PT. Trinitan Metals & Minerals (2020 – Sekarang)
  • Komisaris Bank Mayapada (2011 – Sekarang)
Read More

Atasi Sengkarut Tata Niaga Nikel, Mendag Luthfi Tugaskan Dua Dirjen Awasi Surveyor Nakal

NIKEL.CO.ID – Dirjen Perlindungan Konsumen & Tertib Niaga (PKTN), Veri Anggrijono, serta Dirjen Perdagangan Luarnegeri, Indrasari Wisnu Wardana mendapat perintah dari Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi untuk menelusuri sengkarut pengusaha nikel Nasional dan Tiongkok.

Selain itu, Dirjen Veri dan Dirjen Indrasari diminta menyiapkan satuan tugas (Satgas) di tiap-tiap pabrik pemurnian (smelter) Tiongkok.

“Ya, kami diminta menelusuri dan menemukan win-win solution, termasuk membentuk Satgas, dan menyiapkan sanksi pencabutan ijin usaha surveyor hingga pidana jika terbukti melanggar,” ujar Dirjen PKTN, Veri Anggrijono, sewaktu dikonfirmasi oleh awak media pada malam Jumat, 27 Agustus 2021.

Terkait silang sengkarut tersebut, Dirjen Veri memiliki alasan.

Sengkarut pengusaha Nasional dan Tiongkok itu, menurut Dirjen Veri, merugikan sumber daya alam Indonesia juga minimnya royalti Pemerintah serta pengusaha nasional. Kerugian itu terkait hasil uji kadar logam nikel yang jauh berbeda antara surveyor BUMN yaitu Sucofindo dan Surveyor Indonesia, dengan swasta diwakili Geo Service, Carsurin, dan Anindya. Juga harga patokan mineral (HPM).

“HPM digunakan sebagai acuan dasar royalti pemerintah, dan telah menunjuk lima surveyor dimana tiga lainnya dari swasta sebagai bentuk keterbukaan pemerintah. Surveyor menentukan HPM, uji kadar logam nikel, besaran royalti, dan PPh,” urai Veri Anggrijono.

Geram Didzolimi

Sengkarut itu mengemuka saat rapat kerja Komisi VI DPR RI dengan Kemendag, Rabu (25/8/21).

Andre Rosiade, anggota Fraksi Partai Gerindra, mengungkapkan kegeramannya sewaktu menerima pengaduan pengusaha domestik mengaku dicurangi pengusaha smelter dan pembeli asal Tiongkok serta terpangkasnya royalti Pemerintah Indonesia.

“Saya mendapatkan laporan dari teman-teman pengusaha nikel (lokal) ternyata mereka masih dizolimi,” kata Andre.

“Saya minta Pak Menteri (Luthfi), kita bela pengusaha kita, Pak, kita bela NKRI. Ini penting karena menyangkut sumber daya alam kita dan menyangkut keberlangsungan pengusaha nasional kita. Saya harap dalam masa sidang ini, persoalan ini bisa selesai,” tandas Andre, yang juga Ketua Gerindra DPD Sumatera Barat itu.

Pendzoliman pengusaha anak negeri itu, katanya, diawali kecurangan HPM dan hasil uji kadar logam nikel.

Seperti surveyor BUMN telah menentukan kadar nikel 1,8% tetapi surveyor swasta bisa turun jauh di bawah batas toleransi 0,05% sampai menjadi 1,5% bahkan 1,3%, yang bisa memengaruhi HPM.

Kerugian tersebut, Andre menambahkan, manakala barang tambang itu tiba di pelabuhan Tiongkok tetapi dihargai rendah sesuai hasil uji kadar surveyor PTA & batal beli jika menolak harga rendah tersebut.

Karena itulah, sambung Dirjen Veri Anggrijono, usulan DPR RI bisa dipertimbangkan jika PTA dimenangkan maka nikel rijek itu dijual ke pasaran internasional dimana pemerintah menerima royalti layak dan pengusaha nasional untung.

“Yang jelas, Pak Menteri (Luthfi) sudah memerintahkan kami membentuk Satuan Tugas menangani permasalahan ini,” tutup Veri.

Sumber: klikanggaran.com

Read More

STAL: Teknologi Nikel Ramah Lingkungan Karya Anak Bangsa

NIKEL.CO.IDStep Temperature Acid Leaching (STAL) adalah teknologi yang dikembangkan oleh anak bangsa yang dapat mengolah nikel kadar rendah dan mampu bersaing, bahkan disebutkan lebih ramah lingkungan.

Teknologi STAL memproses bijih nikel dengan tekanan atmosfer dan disebut mampu menghasilkan recovery nikel diatas 90%.

Teknologi yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE) ini dapat menghasilkan limbah yang ramah lingkungan. Limbah nikel tersebut dapat diolah menjadi produk yang bernilai.

Limbah nikel ramah lingkungan yang dihasilkan oleh teknologi STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium). Kedua residu ini dapat diolah menjadi bijih besi atau iron ore atau produk lainnya.

Selain itu, STAL juga dapat menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah jika dibandingkan dengan teknologi pengolahan nikel lainnya.

Teknologi ini dapat berbentuk secara modular dan dinilai cocok untuk digunakan di lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel. STAL juga dapat lebih mudah dijangkau oleh industri tambang skala kecil di Indonesia.

Desain teknologi STAL membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton per tahunnya atau 600 ton bijih nikel per harinya untuk setiap modular STAL.

Teknologi ini dapat mengolah bijih nikel dengan kadar rendah hingga 1,1%. Untuk menghasilkan 1.800 ton nikel, STAL membutuhkan listrik sekitar 1,3 megawatt hour.

Adanya pengembangan teknologi anak bangsa ini patut diapresiasi dan dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil.

Diharapkan dengan adanya teknologi ini, Indonesia dapat lebih menarik investor yang lebih masif.

Sumber: ilmutambang.com

Read More

Andre Rosiade: Bijih Nikel Yang Direject Oleh Smelter, Diekspor Saja Pak Menteri

NIKEL.CO.ID – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, mengapresiasi Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Luthfi yang berkomitmen segera menyelesaikan sengkarut kinerja penyurvei atau surveyor nikel.

Sebagai tindak lanjut, dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR dengan Mendag Luthfi, Kamis (26/8/2021), Andre mengusulkan agar Mendag membentuk satgas perdagangan yang nantinya bakal mengawasi kineja surveyor nikel di parbrik-pabrik pemurnian (smelter) milik Tiongkok.

“Alhamdulillah Pak Menteri sudah akan eksekusi dengan Pak Dirjen soal surveyor nikel. Kalau seandainya ternyata dengan segala intervensi akhirnya Anindya selamat, hasil uji kadar logam nikel pengusaha lokal kita oleh Sucofindo dan Surveyor Indonesia 1,8% tetapi Anindya tetap 1,5%, saya usul Pak Menteri, Bapak bentuk saja satgas perdagangan di seluruh smelter milik Tiongkok, taruh satgas di situ,” kata Andre.

Lebih lanjut, Andre juga mendorong Mendag Luthfi mengambil inisiatif untuk mengekspor nikel yang dinilai rendah oleh smelter Tiongkok. Berdasarkan Undang Undang Cipta Kerja Tahun 2021 Pasal 6 dan 9 dan PP Nomor 29 Tahun 2021, dia menyebut Mendag memiliki kewenangan tersebut.

Andre menilai, ekspor biji nikel dapat menyelamatkan para pengusaha nasional dan lebih memberikan nilai tambah kepada negara. Lebih dari itu, keberpihakan kepada NKRI juga harus diutamakan dalam menghadapi sengkarut tata niaga nikel ini.

“Karena mohon maaf Pak Menteri, sudah harga beli mereka murah, lalu pendapatan pajak untuk negara juga sedikit. Kenapa kita tidak bikin bargaining supaya smelter-smelter Tiongkok itu tidak mengatur NKRI. Yang direject sama mereka ekspor saja Pak Menteri. Pasti harganya lebih mahal, lalu pajaknya juga dapat 15% dari harga internasional. Jadi duitnya jauh lebih banyak negara dapat. Jadi saya usul, lebih baik kita ekspor. Supaya ada rasa keadilan dan bargaining kita sama smelter-smelter Tiongkok itu,” tegas Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera barat ini.

“Yang saya hidupkan adalah NKRI. Pengusaha nasional kita terselamatkan, lalu sumber daya alam kita benar-benar untuk kepentingan negara,” imbuh dia.

Menanggapi usulan Andre, Mendag Luthfi mengatakan pihaknya akan segera menyelesaikan sengkarut kinerja surveyor dalam waktu dekat. Mendag juga akan menindak tegas setiap surveyor yang melakukan kecurangan.

“Untuk urusan nikel ini konsepnya, kalau terjadi kecurangan apa lagi dengan mengatasnamakan surveyor, itu aturannya ada di Kementerian Perdagangan. Saya berjanji akan saya selesaikan sebeleum akhir bulan depan. Kalau ada yang macem-macem saya bilang Dirjen, stop ijinnya. Jadi saya pastikan tidak ada kecurangan lagi soal smelter ini,” kata Mendag Luthfi.

Sumber: detik.com

Read More