Beranda Nikel INPI 9 Maret 2026: Kadar 1,2% Stabil, 1,6% Naik Tipis, Waspadai Turunnya...

INPI 9 Maret 2026: Kadar 1,2% Stabil, 1,6% Naik Tipis, Waspadai Turunnya NPI, Matte, dan MHP

87
0

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Indonesia Nickel Price Index (INPI) yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) periode 9 Maret 2026 menampilkan harga bijih nikel (nickel ore) yang masih stabil dibandingkan rilis 2 Maret lalu.

Sayangnya, produk tengahannya (intermediate products), yakni nickel pig iron (NPI), mengalami penurunan harga tipis. Produk hilirisasi nikel lainnya, berupa high-grade nickel matte (HGNM) dan mixed hydroxide precipitate (MHP), mengalami nasib sama: turun harga.

Produk2 Maret 20269 Maret 2026Keterangan
Bijih Nikel 1,2% (CIF)US$25/mtUS$25/mtTetap
Bijih Nikel 1,6% (CIF)US$67,7/mtUS$68,7/mtNaik US$1/mt
NPI (FOB)US$139,11/mtUS$137,87/mtTurun US$1,24/mt
HGNM (FOB)US$16.021/mtUS$15.688/mtTurun US$333/mt
MHP (FOB)US$15.658/mtUS$15.331/mtTurun US$327/mt

Berdasarkan data INPI per 9 Maret 2026, harga bijih nikel 1,2% (CIF) berada pada kisaran US$24–26/mt dengan rata-rata US$25/mt, tidak berubah dibandingkan periode 2 Maret 2026.

Sementara itu, bijih nikel kadar 1,6% (CIF) tercatat pada kisaran US$65,2–72,2/mt dengan harga rata-rata US$68,7/mt, naik US$1/mt dari rata-rata sebelumnya US$67,7/mt.

Untuk produk antara, NPI (FOB) tercatat sebesar US$137,87/mt. Angka ini turun dibandingkan periode 2 Maret 2026 yang berada di level US$139,11/mt, atau melemah sekitar US$1,24/mt.

Adapun produk hilir menunjukkan pelemahan. HGNM (FOB) tercatat di level US$15.688/mt pada 9 Maret 2026, turun US$333/mt dibandingkan periode sebelumnya yang berada di US$16.021/mt.

Sementara itu, MHP FOB berada di level US$15.331/mt, turun US$327/mt dibandingkan rilis 2 Maret 2026 yang berada di US$15.658/mt.

Rilis INPI oleh APNI ini menjadi acuan transaksi domestik antara penambang dan smelter, serta mencerminkan dinamika pasar nikel nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pada awal Maret 2026, harga bahan baku relatif stabil, sementara produk antara dan hilir menunjukkan koreksi setelah sebelumnya mengalami penguatan.

Dengan perkembangan tersebut, pelaku industri nikel di dalam negeri diharapkan terus mencermati dinamika pasar global serta menyesuaikan strategi produksi dan penjualan pada kuartal pertama 2026. (Li Han)