
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — PT Harita Nickel menargetkan penyelesaian empat line smelter nikel pada kuartal II 2026 untuk melengkapi total 12 line fasilitas pemrosesan yang dibangun perusahaan.
Presiden Direktur Harita Nickel, Roy Arman Arfandy, mengatakan, saat ini delapan line smelter telah beroperasi secara komersial sejak 2025, sementara empat line sisanya sedang dalam tahap penyelesaian.
“Kami berharap dari 12 line yang sudah dibangun itu delapan sudah berjalan secara komersial pada 2025. Dan, pada 2026 kami berharap sisanya akan segera selesai sekitar kuartal kedua tahun ini,” ujar Roy dalam acara buka puasa bersama Harita Nickel dengan para editor media bertema Merajut Silaturahmi pada Bulan Ramadan 2026 di Wyl’s Kitchen, Veranda Hotel Pakubuwono, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).

Menurut lelaki kelahiran Makassar, 9 Mei 1967 itu, penyelesaian seluruh line smelter yang dioperasikan melalui PT Karunia Permai Sentosa tersebut akan memperkuat rencana ekspansi produksi nikel perusahaan di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
“Dengan demikian, kami bisa menjalankan semua rencana ekspansi kami terhadap peningkatan produksi nikel di Pulau Obi,” katanya.
Namun, di tengah kondisi makro-ekonomi dan harga nikel global yang belum stabil dalam dua hingga tiga tahun terakhir, perusahaan akan memprioritaskan peningkatan efisiensi operasional serta standar keberlanjutan.
“Karena situasi memang sangat memungkinkan, apalagi makro-ekonomi seperti saat ini, kami akan fokus pada bagaimana meningkatkan efisiensi serta meningkatkan standar environmental, social, dan governance (ESG) dan sustainability kami,” ujarnya.

Salah satu langkah efisiensi yang dilakukan perusahaan adalah membangun fasilitas pengolahan batu kapur (limestone) menjadi quicklime di Pulau Obi. Ia menjelaskan, quicklime digunakan untuk memperlancar proses leaching pada teknologi high pressure acid leach (HPAL) yang digunakan dalam pengolahan bijih nikel.
“Ini bagian dari upaya efisiensi karena kalau membeli produknya langsung akan lebih mahal dibandingkan memproduksinya sendiri,” jelasnya.
Ia menambahkan, efisiensi menjadi salah satu fokus utama perusahaan di tengah pelemahan harga nikel global dalam beberapa tahun terakhir. (Shiddiq)





































