Beranda Berita Nasional Ketum FINI: Penutupan Selat Hormuz dapat Ganggu Pasokan Sulfur untuk Smelter Nikel...

Ketum FINI: Penutupan Selat Hormuz dapat Ganggu Pasokan Sulfur untuk Smelter Nikel Indonesia

122
0
Ketum FINI, Arif Perdana Kusumah (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan sulfur yang menjadi bahan baku penting bagi industri pengolahan nikel di Indonesia, terutama yang berbasis high pressure acid leaching (HPAL).

Hal itu disampaikan Ketua Umum (Ketum) Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id) di sela-sela acara HUT ke-9 APNI, di Jakarta, Jumat (6/6/2026). Arif menjelaskan, untuk menghasilkan satu ton nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) diperlukan sekitar 12 ton sulfur, sehingga kebutuhan bahan baku tersebut tergolong sangat besar.

Nah, sulfur yang dibutuhkan itu 75 persennya itu berasal dari Timur Tengah, yaitu dari Uni Emirat Arab, Qatar, Saudi Arabia, dan negara-negara lain. Sehingga, kalau Selat Hormuz ditutup memang dampak langsungnya belum terlihat karena biasanya smelter-smelter atau refinery yang ada di Indonesia itu mempunyai cadangan untuk sekitar mingguan sampai satu bulan,” ujarnya.

Menurutnya, cadangan bahan baku yang dimiliki sebagian besar smelter di Indonesia saat ini masih mampu menopang kegiatan operasional dalam jangka pendek, meskipun potensi gangguan distribusi tetap perlu diantisipasi oleh pelaku industri.

“Jadi, mereka masih bisa bertahan sekarang ini. Tapi dalam waktu dekat, apalagi kalau Selat Hormuz ini ditutup dalam waktu lama maka akan berdampak sangat signifikan,” katanya.

“Ada beberapa negara yang mempunyai cadangan sulfur yang cukup besar, tapi kapasitas produksi mereka tidak begitu banyak. Karena kenapa di Timur Tengah itu banyak menyediakan sulfur? Itu sebetulnya bahan produk sampingan dari kilang-kilang minyak yang ada di sana,” ucapnya.

Ia menambahkan, keterbatasan pasokan sulfur bahkan mulai dirasakan oleh sejumlah sektor industri lain yang juga memanfaatkan bahan tersebut dalam proses produksinya.

Nah, kondisi sulfur ini sudah mulai terasa di industri lain. Makanya, kalau melihat berita itu, dua hari yang lalu Chandra Asri itu sudah menyatakan force majeure karena mereka membutuhkan sulfur untuk membuka fertilizer,” ungkapnya.

Perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, katanya menekankan, perlu terus dicermati karena berpotensi mempengaruhi rantai pasok bahan baku industri dalam beberapa waktu ke depan.

“Jadi, di industri lain sudah mulai berdampak. Kalau tidak ada penyelesaian terkait penutupan Selat Hormuz, maka dalam waktu dekat kalau ini akan mulai terasa dampaknya di sektor nikel. Sekarang belum mulai terasa karena umumnya di smelter atau refinery masih mempunyai cadangan sekitar mingguan sampai satu bulan,” pungkasnya. (Tubagus)