Beranda Pemerintahan RI–AS Perkuat Hilirisasi Nikel lewat ART

RI–AS Perkuat Hilirisasi Nikel lewat ART

94
0
Menteri Energi ESDM, Bahlil Lahadalia (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kerja sama perdagangan internasional antara Republik Indonesia (RI) dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru melalui agreement on reciprocal trade (ART) yang disepakati dalam pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington D.C. Kesepakatan tersebut menjadi momentum strategis dalam memperkuat investasi dan hilirisasi mineral kritis, khususnya nikel.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kerja sama ini tetap berlandaskan kepentingan nasional, terutama dalam pengelolaan mineral strategis, seperti nikel dan logam tanah jarang (LTJ). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa Indonesia membuka peluang investasi bagi pengusaha AS, tetapi tetap mengedepankan regulasi dalam negeri.

“Untuk mineral kritis terkait dengan nikel, LTK, dan mineral lainnya, kami telah bersepakat untuk memfasilitasi pengusaha-pengusaha AS untuk berinvestasi dengan tetap menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam negara kita,” ujar Bahlil dalam keterangan Kementerian ESDM, Minggu (22/2/2026).

Pemerintah menegaskan, kerja sama tersebut tidak berarti membuka kembali keran ekspor bahan mentah. Sebaliknya, investasi diarahkan untuk mempercepat pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) di dalam negeri.

“Jadi, jangan diartikan bahwa kita akan membuka ekspor barang mentah. Enggak. Yang dimaksudkan di sini adalah mereka setelah melakukan pemurnian, kemudian hasilnya bisa diekspor,” tegasnya.

Dengan skema ini, Indonesia memastikan bahwa nilai tambah tetap tercipta di dalam negeri sebelum produk mineral memasuki pasar global. Pemerintah menawarkan dua skema investasi bagi perusahaan AS, yakni melakukan eksplorasi langsung atau menjalin kemitraan melalui joint venture dengan BUMN Indonesia. Skema ini diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek hilirisasi sekaligus memperkuat transfer teknologi dan modal.

Pemerintah, katanya menambahkan, akan memberikan prioritas dan kemudahan dalam proses eksekusi investasi yang sejalan dengan agenda hilirisasi nasional.

“Ketika mereka membangun smelter di Indonesia untuk nikel, kita akan dorong, kita akan kasih ruang yang sebesar-besarnya, sama juga dengan negara lain,” tambahnya.

Meski kerja sama dengan AS diperkuat, pemerintah memastikan kebijakan ini tidak bersifat eksklusif. Indonesia tetap membuka peluang bagi mitra global lainnya dengan prinsip perlakuan setara.

Melalui ART, Indonesia menegaskan bahwa diplomasi ekonomi harus berjalan seiring dengan penguatan industri domestik serta menjaga kedaulatan sumber daya alam. Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis, khususnya nikel, di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku energi bersih dan kendaraan listrik. (Shiddiq)