NIKEL.CO.ID, JAKARTA — PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) (Perminas) dan New Energy Metals Holdings Ltd. (NEM), dengan dukungan Danantara Indonesia sebagai pengelola investasi strategis nasional, melakukan penandatangan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU) untuk mengevaluasi potensi kolaborasi strategis di sektor mineral kritis.
Kerja sama tersebut mencakup dua fokus utama, yakni pengembangan sumber daya niobium dan logam tanah jarang/LTJ (rare earth elements/REE) maboumine di Republik Gabon serta potensi inisiatif penguatan rantai nilai hilir rare earth di Indonesia.
Kolaborasi tersebut menegaskan komitmen para pihak dalam memperkuat integrasi hulu-hilir dan membangun rantai pasok LTJ yang tangguh dan berdaya saing global, mulai dari pengembangan sumber daya, pemrosesan, hingga manufaktur lanjutan.

Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan, fase pertumbuhan industri Indonesia berikutnya membutuhkan akses yang kuat terhadap input strategis sekaligus kemampuan mengonversinya menjadi produk hilir berdaya saing global.
“Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi masa depan,” kata Rosan dalam keterangan, dikutip Jumat (20/2/2026).
Sementara itu, Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, menilai, kolaborasi ini menandai fase baru keterlibatan Indonesia dalam industri mineral kritis, termasuk LTJ.
“Kolaborasi dengan NEM mencerminkan meningkatnya kapasitas industri Indonesia serta kepercayaan mitra internasional terhadap potensi mineral kritis Indonesia,” ujarnya.

Lalu, Direktur Utama Perminas, Gilarsi Wahju Setijono, menegaskan, MOU tersebut menjadi jalur terstruktur untuk menilai peluang integrasi antara potensi sumber daya hulu dan penciptaan nilai hilir, sejalan dengan tata kelola yang kuat dan prioritas nasional jangka panjang.
“Permina berkomitmen mendorong pencapaian tujuan strategis Indonesia di sektor mineral kritis dan industrialisasi hilir. MOU ini menciptakan jalur yang terstruktur untuk menilai peluang yang menghubungkan potensi sumber daya hulu dengan penciptaan nilai hilir, selaras dengan tata kelola yang kuat dan prioritas nasional jangka panjang,” paparnya.
Kemudian, Presiden NEM, Abduljabbar Alsayegh, mengatakan, pihaknya antusias menjalin kolaborasi untuk memperkuat dan mendiversifikasi rantai pasok LTJ yang kritis.
“Kami mengapresiasi visi nasional Indonesia dalam memajukan rantai nilai mineral kritis dan LTJ strategis, agenda yang semakin penting bagi transisi energi global, kepemimpinan teknologi, dan ketahanan pasokan,” pungkasnya.

Diketahui, material kritis, seperti niobium (Nb) dan LTJ, termasuk neodymium (Nd) dan praseodymium (Pr), merupakan bahan utama magnet permanen berkinerja tinggi. Selain itu, LTJ berat, seperti dysprosium dan terbium, dibutuhkan untuk meningkatkan performa magnet pada suhu tinggi.
Mineral-mineral tersebut berperan penting dalam industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), energi terbarukan, seperti turbin angin dan infrastruktur jaringan listrik, hingga aplikasi kedirgantaraan dan pertahanan.
Melalui MOU itu, para pihak membentuk joint working group untuk menjalankan program kerja sama terstruktur dan dipercepat. Agenda kerja mencakup pertukaran informasi, lokakarya teknis, asesmen komersial, serta pengembangan jalur hulu-hilir di sepanjang rantai nilai rare earth, mulai dari pemisahan, pemurnian, produksi logam dan paduan, hingga manufaktur magnet permanen.
Di sisi pembiayaan, para pihak akan memulai negosiasi jalur cepat terkait potensi investasi strategis, termasuk partisipasi ekuitas dan/atau utang oleh Perminas dan/atau Danantara Indonesia di tambang Maboumine dan entitas proyek terkait. Proses ini akan melalui uji tuntas dipercepat serta tunduk pada persetujuan internal dan ketentuan regulasi yang berlaku. (Uyun)































