NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Komoditas nikel menempati urutan kedua dalam ekspor Maluku Utara dengan nilai US$4.565,97 juta sepanjang Januari—Desember 2025 lalu. Besi dan baja masih mendominasi ekspor Maluku Utara dengan nilai US$8.919,67 juta, sedangkan bahan kimia anorganik menduduki urutan ketiga senilai US$602,55 juta. Ketiga komoditas itu berkontribusi hingga 99% dari total nilai ekspor.
Pertumbuhan signifikan itu dilaporkan Badan Pusat Statitik (BPS) dalam laporan total ekspor daerah yang dipimpin Gubernur Sherly Tjoanda itu. Disebutkan nilai ekspor Maluku Utara mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang Januari–Desember 2025, yakni US$14.230,90 juta atau naik 28,61% dibandingkan periode yang sama tahun 2024; sedangkan pada Desember 2025, ekspor Maluku Utara juga naik. Nilainya tercatat sebesar US$1.389,89 juta, meningkat 26,09% dibandingkan Desember 2024.

Hal itu diungkapkan Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Maluku Utara, Evida Karismawati. Komoditas besi dan baja, katanya melanjutkan, menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekspor selama 2025 dengan kenaikan sebesar US$2.268,28 juta. Komoditas logam dasar lainnya mengalami kenaikan persentase tertinggi mencapai 510,07%.
Dari sisi negara tujuan, sambung Evida lagi, Tiongkok menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor US$13.593,46 juta atau 95,52% dari total ekspor. Jepang mengikuti dengan nilai US$275,95 juta, disusul India sebesar US$230,57 juta.

Ia juga menggambarkan ekspor ke Korea Selatan, Belanda, dan Taiwan juga tercatat meskipun dalam jumlah yang lebih kecil. BPS melaporkan bahwa kenaikan total ekspor sepanjang 2025 sebesar US$3.165,73 juta terutama didorong oleh peningkatan ekspor ke Tiongkok yang naik US$3.001,29 juta. Jepang juga mencatat lonjakan ekspor hingga 1.300,57%. Sementara itu, ekspor ke Taiwan turun sebesar US$54,86 juta atau 73,06% dibandingkan tahun 2024.
Pada Desember 2025, ekspor Maluku Utara ke Tiongkok tercatat sebesar US$1.342,11 juta. Angka tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan ekspor daerah terhadap pasar Tiongkok.
BPS juga mencatat sebagian barang asal Maluku Utara dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain dengan nilai US$554,57 juta sepanjang 2025. Pelabuhan di DKI Jakarta menjadi pintu ekspor terbesar dengan nilai US$538,89 juta atau sekitar 3,65% dari total ekspor Maluku Utara. (Lili Handayani)




























