NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesian Business Council (IBC) menegaskan pentingnya percepatan hilirisasi nikel, pengembangan energi baru terbarukan (EBT), dan manufaktur semikonduktor sebagai fondasi transformasi industri nasional, dalam gelaran Indonesia Economic Summit (IES) 2026, di Shangri-La Hotel, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Forum yang berlangsung selama dua hari itu, 3-4 Februari 2026, dihadiri pemimpin pemerintahan, dunia usaha, investor global, akademisi, serta organisasi internasional dari 53 negara. Dengan mengusung tema “Coming Together to Boost Resilient Growth and Shared Prosperity”, penyelenggara memfokuskan pembahasan pada penguatan industri bernilai tambah dan integrasi Indonesia dalam rantai nilai global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan, pemerintah menempatkan hilirisasi industri sebagai strategi utama ketahanan ekonomi, terutama pada komoditas strategis, seperti nikel yang menjadi basis industri baterai dan transisi energi.
“Ketahanan ekonomi harus menghasilkan peningkatan kesejahteraan nyata, dengan fokus pada jasa, manufaktur bernilai tambah, energi terbarukan, dan teknologi maju. Kolaborasi regional, terutama dalam semikonduktor generasi berikutnya, sangat penting untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan sistem multilateral yang stabil,” ujar Airlangga.
Menurut dia, investasi pada hilirisasi nikel, pengembangan EBT, serta teknologi semikonduktor tidak hanya memperkuat struktur industri nasional, tetapi juga mendorong penciptaan lapangan kerja dan transformasi digital sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

Dalam sesi pembahasan investasi sebagai mesin pertumbuhan baru, Airlangga berdialog dengan Premier Sarawak Datuk Patinggi Tan Sri Abang Haji Abdul Rahman Zohari bin Tun Datuk Abang Haji Openg dan Chairman of the Board of Trustees Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD), Abdullah Saleh Kamel. Ketiganya menyoroti pentingnya percepatan infrastruktur, konektivitas regional–global, dan kerja sama lintas negara untuk memastikan proyek hilirisasi dapat dieksekusi secara efektif.
Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid, menilai, posisi Indonesia sebagai kekuatan menengah dengan politik luar negeri bebas dan aktif memberikan peluang strategis untuk memperkuat investasi industri hilir dan manufaktur berteknologi maju.
“Melalui tiga pilar IBC, yakni certainty, capability, dan capital, kita memastikan kepastian regulasi, kapasitas institusi, dan akses terhadap modal berkualitas agar peluang investasi benar-benar terwujud menjadi proyek nyata. Kehadiran mitra internasional hari ini menunjukkan bahwa dunia siap bekerja lebih erat dengan Indonesia. Sekarang bukan waktunya hanya berbicara, melainkan saatnya menunjukkan bukti,” kata Arsjad.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) IBC, Sofyan Djalil, menegaskan peran dunia usaha dalam mendorong investasi berkualitas pada sektor-sektor strategis, termasuk industri berbasis EBT dan manufaktur bernilai tambah.

“Forum ini dirancang sebagai katalis bagi investasi strategis, kemitraan lintas negara, dan kolaborasi berkelanjutan yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global,” ujar Sofyan.
Pada hari pertama, IES 2026 menghadirkan sejumlah menteri dan pemangku kepentingan internasional untuk membahas arah kebijakan ekonomi, transformasi industri, dan reformasi struktural. Diskusi menekankan pentingnya hilirisasi nikel, pengembangan EBT, dan kesiapan ekosistem semikonduktor guna meningkatkan daya saing industri nasional serta menarik investasi jangka panjang.
Melalui forum ini, IBC berharap Indonesia mampu mempercepat transformasi industri dari berbasis komoditas mentah menjadi pusat manufaktur bernilai tambah, sekaligus memperkuat perannya dalam rantai pasok global yang berkelanjutan.
“Indonesia Economic Summit 2026 adalah momentum untuk menyatukan visi dan menyalakan aksi. Pertumbuhan harus diiringi dengan keadilan dan kemakmuran bersama,” tutupnya. (Shiddiq)




























