NIKEL.CO.ID, JAKARTA —Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan pemberian insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang lebih menggunakan bateri berbasis nikel (nickel manganese cobalt/NMC atau nickel cobalt alumunium/NCA) dibandingkan dengan lithium ferro phosphate (LFP). Usulan tersebut dinilai dapat membangkitkan industri otomotif Indonesia.
Pengamat industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan, usul tersebut merupakan langkah proteksionisme strategis untuk memaksa merek EV membangun ekosistem industri yang lebih dalam di Tanah Air.
“Ini memiliki logika ekonomi makro yang kuat. Sebab, idenya sebagai bentuk nasionalisme industri. Tujuannya, bertujuan memastikan integrasi industri hulu nikel Indonesia yang masif dengan industri hilir (sel baterai dan EV). Di samping itu, tujuannya juga menciptakan ekosistem yang terintegrasi secara vertikal serta added value sebesar-besarnya bagi Indonesia,” kata Yannes, dikutip Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan harga baterai NMC/NCA yang lebih mahal 25-40% dari LFP dapat disesuaikan agar tidak terlalu jauh selisihnya, sehingga baterai berbasis nikel ini dapat bersaing dengan baterai LFP.
“Agar baterai NMC/NCA bisa bersaing dengan LFP, pemerintah tentunya harus menutup gap biaya produksi NMC/NCA yang sekitar 35-40% lebih mahal daripada LFP per KWh-nya. Sehingga, dengan insentif yang diberikan, EV berbasis baterai nikel bisa dijual dengan harga lebih murah daripada mobil berbasis baterai LFP di pasar Indonesia,” jelasnya.
Adapun usulan insentif EV ini merupakan langkah melindungi sekaligus memaksa produsen EV membangun pabrik perakitan di dalam negeri. Bila hal ini diterapkan, dinilai dapat menyetop ketergantungan pada impor LFP dan mulai beralih ke ekosistem domestik. Pemakaian baterai nikel dikatakan bisa mempercepat produsen mencapai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 40% seperti yang diminta pemerintah.
Diketahui, Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia dan juga produsen nikel terbesar di dunia. Cadangan nikel di Indonesia mencapai 55 juta metrik ton atau sekitar 45% cadangan global 2023-2024. Selain itu, porsi produsen nikel di Indonesia mencapai 50%.
Sebagai informasi, baterai adalah komponen utama dan juga termahal dalam EV. Harga baterai tersebut dapat mencapai 40-50% dari total biaya produksi. Baterai nikel memiliki densitas energi lebih tinggi dari LFP, yang berguna untuk mendapat jarak tempuh lebih jauh. Tetapi harga baterai nikel jauh lebih mahal 35-40% dari harga LFP. (Uyun)




























