NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Bekerja di industri pertambangan bukan sekadar soal keahlian teknis, tetapi juga ketangguhan fisik, kekuatan mental, dan keberanian mengambil tanggung jawab. Realitas itu dirasakan betul oleh Fadli Wahda, salah satu karyawan Harita Nickel yang meniti karier dari bawah hingga kini dipercaya menduduki posisi strategis.
Lulusan S1 Teknik Pertambangan Universitas Muhammadiyah Ternate ini meyakini bahwa kesuksesan tidak hadir secara instan. Baginya, karier adalah hasil dari konsistensi, kesabaran, dan kemauan belajar langsung di lapangan.
Perjalanan Fadli di dunia pertambangan dimulai pada 2018 di Buli, Halmahera Timur. Saat itu, ia bekerja sebagai petugas keselamatan kerja. Lingkungan tambang yang keras menjadi sekolah pertamanya dalam memahami arti disiplin dan tanggung jawab di tengah ritme kerja yang dinamis.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika ia memutuskan bergabung dengan Harita Nickel di Pulau Obi pada Oktober 2019. Di fase awal pengembangan kawasan industri, kondisi lapangan masih jauh dari kata ideal. Aktivitas konstruksi berjalan masif, alat berat beroperasi tanpa henti, dan pekerja dari berbagai latar belakang kontraktor berbaur dalam satu area kerja.
Sebagai field safety, ia memikul tanggung jawab besar. Tdak hanya memastikan prosedur keselamatan dijalankan, tetapi juga menjaga agar setiap pekerja bisa kembali ke mes dengan selamat menjadi tanggung jawabnya.

“Waktu itu tantangannya luar biasa. Kita tidak hanya menjalankan prosedur, tapi ikut membangun budaya. Bagaimana caranya menegur pekerja agar patuh safety tanpa membuat gesekan, itu seni komunikasi yang saya pelajari setiap hari,” kenang lelaki yang akrab disapa Akha itu sebagaimana dikutip dari laman Harita Nickel, Rabu (28/1/2026).
Dedikasi dan pendekatannya yang humanis berbuah hasil. Pada 2021, dia dipercaya menduduki posisi foreman. Namun, promosi tersebut justru menjadi ujian mental terberat dalam kariernya. Ia harus beradaptasi dari posisi rekan kerja menjadi seorang pemimpin di lapangan.
“Tantangan terberatnya adalah mental. Dulu sama-sama di lapangan, sekarang harus memberi arah. Tapi saya memilih pendekatan merangkul, bukan menunjuk,” ucapnya.
Dengan memimpin belasan anggota, ia memilih untuk tetap dekat dengan tim. Dengan lebih banyak berdiskusi di lapangan, ia memastikan pekerjaan berjalan rapi tanpa menciptakan jarak yang kaku antara atasan dan bawahan.
Gaya kepemimpinannya yang rendah hati namun tegas dinilai efektif oleh manajemen. Sejak September 2025, Akha resmi mengemban amanah baru sebagai supervisormonitoring K3, dengan cakupan kerja yang lebih luas dan strategis.
Safety Superintendent Harita Nickel, Tomy Bongga, menilai Akha sebagai sosok pemimpin yang tumbuh dari tempaan lapangan.
“Akha mempunyai kemampuan adaptasi yang sangat baik. Kelebihan utamanya adalah mampu menerjemahkan kebijakan perusahaan menjadi bahasa operasional yang mudah dipahami teman-teman di lapangan. Promosi ini adalah apresiasi atas inisiatif dan cara dia memimpin tim,” ungkap Tomy.
Bagi Akha, Harita Nickel bukan sekadar tempat bekerja, melainkan rumah yang memberinya ruang untuk bertumbuh. Jerih payah selama bertahun-tahun di Pulau Obi kini membuahkan hasil nyata: kehidupan keluarga yang lebih layak dan masa depan yang lebih terencana.
Meski telah berada di level supervisor, dia tetap memegang prinsip untuk tidak cepat berpuas diri.
“Selama kesempatan masih terbuka, selalu ada ruang untuk bertumbuh. Kuncinya cuma satu: terus belajar, jaga keutuhan, dan tetap rendah hati kepada siapa saja,” tutupnya.
Kisah Akha menjadi gambaran bahwa di balik kerasnya dunia pertambangan nikel, selalu ada cerita perjuangan, pembelajaran, dan inspirasi bagi mereka yang mau bertahan dan berkembang. (Shiddiq)




























