Beranda Berita Nasional ESI Dorong Hilirisasi Nikel ke Metalurgi Hijau, Baja Nirkarat Lebih Berkelanjutan Dibanding...

ESI Dorong Hilirisasi Nikel ke Metalurgi Hijau, Baja Nirkarat Lebih Berkelanjutan Dibanding EV

27
0

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Hilirisasi nikel bukan mencakup kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) belaka, melainkan dapat diperluas ke sektor metalurgi hijau, seperti baja nirkarat (stainless steel). Hal tersebut disampaikan Energy Shift Institute (ESI) dalam laporannya.

Associate Principal ESI, Ahmad Zuhdi, mengatakan, pemanfaatan nikel di sektor metalurgi mulai dari produk konsumsi hingga industri berat, seperti konstruksi dan transportasi, berpotensi menyerap hingga 60% output tambang nikel.

“Ketika kami breakdown melalui analisis kami, nikel itu hanya berperan 2-4 persen dalam komposisi keseluruhan EV. Saya bisa saja saat ini berdiri di sini dan menyebutkan EV merupakan downstreaming dari industri kulit. Karena, kita tahu semua mobil EV premium saat ini yang berada di Indonesia, interiornya menggunakan kulit,” katanya di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

https://events.minviro.com/decarbonisation-workshop-apac-2025?hs_preview=GJvcVbTU-272478457024

Selain itu, sebanyak 95% baja nirkarat dapat didaur ulang sehingga meningkatkan upaya pelestarian lingkungan. Hal tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat daur ulang baterai nikel lithium-ion yang hanya 5%. Ia juga menyoroti stainless steel, yang merupakan bahan baku untuk nampan makan bergizi gratis, masih diimpor dari China padahal bahan baku dalam negeri memadai.

“Meski kurang glamor dibandingkan EV dan baterai, manufaktur lokal berskala kecil yang berpusat pada stainless steel memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar karena melayani beragam sektor, sehingga layak mendapatkan dukungan kebijakan industri,” paparnya.

Lalu, tantangan lain industri EV menyerap nikel di Indonesia lantaran kendala struktural. Mobil yang diproduksi 97% dirakit di tempat mereka dijual. Hal tersebut membuat ekspor EV menjadi terbatas.

https://event.cnfeol.com/en/event/339

Maka dari itu, ESI menekankan kepada pemerintah utuk melakukan hilirisasi nikel yang mengarah pada sektor metalurgi karena Indonesia sudah memiliki keunggulan dan kompetensi dalam industri tersebut.

“Indonesia dapat menciptakan peluang keberlanjutan tersendiri dengan mengembangkan merek-merek lokal yang menyasar konsumen, baik domestik maupun global, yang tidak keberatan membayar lebih untuk produk yang diproduksi secara bertanggung jawab,” pungkasnya. (Uyun)