
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah mulai mematangkan 13 proyek hilirisasi tahap kedua yang masih berada pada tahap pra-studi kelayakan (pre-feasibility study/pre-FS). Proyek-proyek ini merupakan lanjutan dari 18 proyek hilirisasi yang telah digulirkan sebelumnya.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ahmad Erani Yustika, menegaskan, jumlah proyek masih bersifat dinamis dan bisa berubah seiring proses evaluasi.


“Untuk sementara 13 proyek, tapi bisa bertambah atau berkurang. Ini masih tahap pendalaman sebelum diserahkan,” ujarnya di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Senin (6/4/2026).
Seluruh proyek masih terkonsentrasi di sektor minyak dan gas (migas) serta mineral dan batu bara (minerba). Pemerintah belum membuka rincian karena kajian masih berjalan. Setelah pra-FS rampung, proyek akan diserahkan ke Danantara untuk masuk tahap studi kelayakan (feasibility study/FS) sekaligus penentuan eksekusi. Pada fase ini, kendali penuh beralih ke Danantara.

“Begitu diserahkan, otoritas sepenuhnya di Danantara, termasuk soal kelayakan dan eksekusi,” kata Erani seraya menambahkan bahwa dari 18 proyek tahap pertama, baru sekitar lima hingga enam yang telah masuk tahap groundbreaking. Sisanya masih tertahan di tahap kajian.
Presiden meminta percepatan, terutama untuk proyek yang menopang ketahanan energi nasional. Namun hingga kini, belum ada pembaruan signifikan dari Danantara untuk proyek lainnya.
Di sektor minerba, proyek yang dikaji mencakup pengolahan bauksit, produksi baja, hingga kabel bawah laut. Meski demikian, pemerintah masih menahan detail karena kajian berbasis data sekunder tersebut masih perlu verifikasi lapangan. (Shiddiq)









































