Beranda Daerah Nikel Jadi Magnet Investasi, Sulawesi Tengah Tembus Lima Besar Nasional

Nikel Jadi Magnet Investasi, Sulawesi Tengah Tembus Lima Besar Nasional

303
0
Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Riyatno (Foto: MNI/Li Han)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Realisasi investasi nasional di luar Pulau Jawa terus meningkat selama lima tahun terakhir. Hal itu menunjukkan distribusi investasi yang semakin merata dan dinilai menjadi indikator keberhasilan strategi pemerintah dalam mendorong pemerataan ekonomi berbasis potensi daerah, khususnya sumber daya alam.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mengungkapkan hal tersebut melalui Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Riyatno. Ketersediaan sumber daya alam di berbagai daerah, menurut dia, merupakan faktor utama mengalirnya investasi ke luar Pulau Jawa.

“Kalau investasinya lebih banyak di luar Jawa tentu ini akan lebih terdistribusi,” katanya dalam acara “Mengurai Bottleneck Pertumbuhan Ekonomi”, di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Riyatno menjelaskan, Sulawesi Tengah masuk dalam lima besar realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) karena nikel meskipun posisi empat besar masih didominasi Pulau Jawa.

“Lima besar realisasi investasi untuk PMA-PMDN, pertama di Jawa Barat, kemudian di Jakarta, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Tengah. Di Jawa Barat paling banyak karena memiliki kawasan industri, sedangkan Sulawesi Tengah karena memang memiliki sumber daya alam, khususnya nikel,” ungkapnya.

Sementara itu, sisi subsektor, industri logam dasar, barang logam, serta bukan mesin dan peralatannya menjadi penyumbang investasi terbesar dengan porsi mencapai 13,6%. Capaian ini menunjukkan kebijakan hilirisasi yang menjadi prioritas pemerintah berjalan efektif.

“Ini menunjukkan bahwa prioritas pemerintah untuk hilirisasi itu berjalan,” ujarnya.

Selain itu, tercatat realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun yang terdiri dari mineral hingga kelautan. Sektor mineral pun menjadi kontributor terbesar dalam investasi hilirisasi tersebut.

“Hilirisasi ini termasuk yang paling tinggi mencapai Rp584,1 triliun yang terdiri dari mineral, perkebunan dan kehutanan, juga minyak dan gas bumi, serta perikanan dan kelautan,” pungkasnya. (F Yun/Li Han)