
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Permintaan nikel global saat ini mencapai sekitar 3,36 juta ton, 67% di antaranya digunakan untuk bahan baja nirkarat (stainless steel), sedangkan untuk konsumsi bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) masih sekitar 15% di tengah tren pengembangan energi hijau.
Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, mengungkapkan hal tersebut dalam IDX Channel, Sabtu (28/3/2026). Konsumsi nikel dunia saat ini masih didominasi oleh kebutuhan baja nirkarat, meskipun permintaan untuk baterai EV mulai meningkat.

“Permintaan (demand) produksi nikel saat ini masih ke stainless steel. Secara total di dunia ini membutuhkan 3,36 juta ton nikel, dari jumlah tersebut dikonsumsi untuk stainless steel 67%, sedangkan untuk baterai masih 15%. Kebutuhan untuk baterai EV akan naik memang, tapi kan bertahap,” paparnya.
Ia menilai, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam menentukan arah pengembangan industri nikel nasional, terutama di tengah dorongan hilirisasi dan penguatan ekosistem baterai kendaraan listrik.

“Artinya kenapa kita fokus ke 15%-nya bukan ke 67%-nya gitu kan. Saat ini kita sedang bertransformasi,” katanya.
Proses transformasi industri nikel, katanya melanjutkan, tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga perlu memperhatikan aspek lain, seperti transfer teknologi dan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Mungkin yang harus dicermati adalah, satu, bagaimana transfer teknologinya; kedua, apakah betul-betul efek dominonya dirasakan oleh masyarakat di sekitar tambang; ketiga, bagaimana kita mengontrol sehingga satu kita mau jadi kingmakers, kita mau jadi global influencer untuk nikel,” tuturnya.

Meidy juga mengingatkan pentingnya pengendalian produksi agar tidak memicu kelebihan pasokan yang dapat menekan harga nikel global, sekaligus mendorong peningkatan kualitas produksi menuju industri yang lebih ramah lingkungan.
“Artinya, dunia berharap ke Indonesia, kalau oversupply harga turun lagi. Kita produksi jorjoran cadangan kita tidak cukup, kalau kita produksi jorjoran harga turun,” singkapnya.
Ia juga menyoal dirty nikel, dengan mengatakan, kita mau menuju ke green nickel. Kita naik kelas bukan lagi berbicara kuantitas, tetapi kualitas. Nikel Indonesia bisa masuk pasar-pasar Eropa, kita bisa masuk ke paspor baterai, kita bisa masuk ke Paris Agreement. Ke depannya, hal paling penting adalah ESG. (Tubagus)






































