Beranda Berita Nasional Dua Panadol di Meja Kerja, Suka Duka Memimpin Tambang Nikel

Dua Panadol di Meja Kerja, Suka Duka Memimpin Tambang Nikel

104
0
Presiden Direktur Harita Nickel, Roy Arman Arfandy (Foto: MNI/Shiddiq)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Di balik geliat industri nikel yang terus berkembang di Indonesia, ada cerita personal dari para pemimpinnya. Bagi Roy Arman Arfandy, memimpin perusahaan tambang bukan hanya soal produksi dan investasi, tetapi juga tentang tekanan, kebersamaan tim, dan cara menjaga kewarasan di tengah tanggung jawab besar.

Sebagai Presiden Direktur Harita Nickel, Roy memegang kendali operasional perusahaan tambang nikel yang menjadi salah satu pemain penting dalam industri mineral nasional. Namun, di balik jabatan itu, ia mengakui ada cerita suka dan duka yang tidak selalu terlihat dari luar.

Ketika ditanya wartawan tentang pengalaman memimpin perusahaan tambang, lelaki berusia 59 tahun itu justru menjawab dengan analogi sederhana, tentang obat sakit kepala.

“Ini juga pertanyaan yang sangat susah. Biasanya mungkin orang tambang yang nanya begini. Tapi, sebagai bayangan, tahun lalu saya bisa makan Panadol satu cukup. Tahun ini saya butuh Panadol dua kalau lagi sakit kepala,” ujarnya sambil tersenyum dalam acara Buka Puasa Bersama Harita Nickel dengan Editor Media, di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Cerita itu menggambarkan bagaimana tekanan pekerjaan meningkat dari waktu ke waktu. Tanggung jawab besar, dinamika bisnis tambang, serta berbagai keputusan strategis membuat beban pikiran seorang pimpinan perusahaan ikut bertambah. Akan tetapi, Roy menegaskan, tekanan itu bukan berarti membuatnya terpuruk.

“Alhamdulillah bisa sehat. Kami juga bisa komunikasi. Kerja sama dengan teman-teman di Harita itu sangat baik,” tuturnya.

Ia punya kiat khusus menghadapi tekanan dalam memimpin perusahaan tambang. Kuncinya justru terletak pada kekompakan tim di internal perusahaan. Ia mengaku bersyukur karena lingkungan kerja di Harita Nickel dipenuhi semangat dan saling mendukung. Hal itu membuat tekanan pekerjaan terasa lebih ringan.

“Saya bersyukur kami semua di internal Harita itu kompak, saling mendukung, sehingga kami semua bisa bekerja sama dengan baik, tidak terlalu stres,” ungkapnya.

Bahkan, candaan tentang dua butir obat sakit kepala itu sebenarnya menjadi simbol kecil dari realitas kepemimpinan yang dijalaninya.

“Walaupun saya butuh dua Panadol sekali kalau pusing, tapi untungnya pusingnya tidak sering-sering,” katanya.

Bagi lulusan sarjana teknik dari Universitas Hasanuddin, Makassar, itu suka duka memimpin perusahaan tambang bukan sekadar angka produksi atau target bisnis. Lebih dari itu, kepemimpinan berarti menjaga kesehatan mental, membangun komunikasi, dan menciptakan solidaritas dalam tim.

Di tengah kerasnya industri tambang, ia menunjukkan bahwa kekompakan tim bisa menjadi “obat” yang jauh lebih ampuh daripada sekadar dua tablet Panadol di meja kerja. (Shiddiq)