NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Masuknya Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART) membuat persaingan menjadi lebih sehat sekaligus membuka peluang transfer teknologi untuk produk-produk olahan dan pengolahan mineral, bukan hanya nikel. Sehingga, Indonesia dapat melakukan upgrade dari bahan baku menjadi produk, meningkatkan skill, teknologi, informasi, hingga pendapatan.
Hal itu disampaikan Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, dalam wawancara bersama IDX Channel, Selasa (24/2/2026). Menurut Meidy, kehadiran Amerika menjadi sisi positif karena tidak lagi hanya satu negara yang terlibat dalam pengembangan industri nikel di Indonesia, menjadikan ruang persaingan menjadi lebih terbuka.
“Kalau dari pandangan kami, kami melihat sisi positif sebenarnya, karena secara tidak langsung kita bilang lumayan ada negara Amerika, bukan satu negara saja yang masuk ke Indonesia. Jadi, kita butuh ada sesuatu yang baru,” ujarnya.

Sejak awal kebijakan hilirisasi dibuka melalui UU No. 4 Tahun 2009, katanya menjelaskan, Indonesia memang mengundang seluruh negara untuk berinvestasi selama investor melakukan pengolahan dan memberikan nilai tambah terhadap mineral kritis, termasuk nikel.
“Investasi ini kan dari awal sejak UU hilirisasi dibuka untuk semua negara 2009, yakni UU No. 4 Tahun 2009. Kita mengundang seluruh investasi masuk ke Indonesia, selama dia bisa membuat pengolahan atas mineral kritis kita, salah satunya nikel,” katanya.
Menurut dia, semakin banyak negara yang terlibat dalam investasi pengolahan mineral di Indonesia akan memperluas pilihan kerja sama sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam menentukan arah hilirisasi.

“Kalau sudah terbuka lagi dengan negara lain seperti Amerika, tentu persaingan akan lebih sehat. Kita membutuhkan teknologi-teknologi baru lagi yang bisa masuk ke Indonesia. Dan ingat, transfer teknologi untuk produk-produk olahan, pengolahan mineral, bukan hanya nikel, sangat amat kita butuhkan. Sehingga, Indonesia betul-betul bisa upgrade, dari bahan baku menjadi produk, upgrade skill, upgrade teknologi, upgrade informasi, bahkan upgrade pendapatan. Tujuan utamanya adalah kepentingan nasional kita, value added,” paparnya.
Dengan demikian, simpulnya, keterlibatan Amerika melalui ART menjadi momentum untuk memperkuat agenda hilirisasi yang telah berjalan, sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah industri mineral nasional melalui penguatan pengolahan, penguasaan teknologi, serta pengembangan produk turunan hasil pengolahan di dalam negeri. (Tubagus)
































