NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Logam tanah jarang (LTJ) secara teori bercampur dengan mineral-mineral tertentu, termasuk nikel. Indonesia yang merupakan salah satu produsen nikel terbesar dunia, secara logika memiliki potensi cadangan LTJ yang cukup besar.
Hal tersebut disampaikan anggota Komisi XII DPR RI, Ramson Siagian, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Senin (9/2/2026). Ramson menilai, dalam praktiknya, aktivitas pertambangan mineral nasional selama ini masih berfokus pada penjualan bahan baku, sementara potensi material bernilai tinggi yang terkandung di dalamnya belum dimanfaatkan secara optimal.

“Ini kan industri mineral yang nilainya sangat tinggi. Artinya, kalau diproses, added value-nya sangat tinggi dan sangat mahal. Jadi, sebenarnya pertama dari sisi keuangan added value-nya sangat tinggi, terus yang kedua dari sisi strategi pertahanan,” katanya.
Ia menekankan, LTJ memiliki peran penting dalam mendukung teknologi strategis dan sistem persenjataan tertentu, sehingga pengelolaannya tidak bisa dilepaskan dari kepentingan nasional.
“Seharusnya ini ada upaya untuk menjaga agar nikel atau timah atau bauksit yang ditambang itu dan sekarang lagi trennya hilirisasi untuk diproses di smelter itu bisa dipisahkan teknologinya. sehingga untuk yang LTJ ini bisa diambil oleh negara karena sesuai Pasal 33 UUD 1945 hal-hal yang strategis untuk bangsa itu dikuasai oleh negara,” tegasnya.

Karenanya, dia berharap pemerintah mulai menyiapkan langkah strategis ke arah tersebut, termasuk dukungan anggaran, mengingat pengembangan LTJ memiliki nilai jangka panjang bagi perekonomian dan pertahanan nasional.
“Saya mengharapkan secara strategis itu mulai disiapkan ke situ, biarpun membutuhkan anggaran. Tinggal disampaikan ke Bapak Presiden karena untuk hal-hal strategis Bapak Presiden sangat tertarik dan bisa langsung me-manage menteri Keuangan untuk mencari sumber dana,” pungkasnya. (Tubagus)




























