Beranda Korporasi Komitmen Menjaga Alam, Harita Nickel Terapkan LNRA

Komitmen Menjaga Alam, Harita Nickel Terapkan LNRA

164
0

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Di tengah meningkatnya kebutuhan nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), sektor pertambangan menghadapi tantangan besar: bagaimana memenuhi permintaan global tanpa mengorbankan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Menyadari tantangan tersebut, Harita Nickel mengambil langkah strategis dengan mengadopsi Landscape Level Nature Risk Assessment (LNRA) sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan.

Nikel memang memegang peran krusial dalam transisi energi global menuju ekonomi rendah emisi. Namun, aktivitas pertambangannya berpotensi menimbulkan risiko, mulai dari peningkatan emisi hingga gangguan terhadap keanekaragaman hayati. LNRA hadir sebagai pendekatan penilaian lingkungan yang memungkinkan perusahaan melihat risiko tersebut secara lebih menyeluruh, tidak hanya di dalam wilayah konsesi, tetapi juga pada ekosistem di sekitarnya.

Sebagai perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi, Harita Nickel menjadikan LNRA sebagai kerangka kerja utama dalam pengelolaan risiko keanekaragaman hayati. Pendekatan ini memungkinkan perencanaan konservasi dilakukan secara lebih holistik dan berbasis lanskap.

Penerapan LNRA di Harita Nickel menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh tim sustainability perusahaan. Studi berjudul “Integrating Biodiversity in Mining: From Conceptual to Operational” ini dipublikasikan dalam prosiding International Conference on Sustainable Energy (ICoSE) 2025 dan dimuat di Atlantis Highlights in Sustainable Development (Atlantis Press).

Sustainability Manager Harita Nickel sekaligus pemimpin tim riset, Klaus Oberbauer, menjelaskan,  penelitian tersebut bertujuan memahami sejauh mana LNRA dipahami dan diterapkan di internal perusahaan.

“Kami melakukan wawancara semi-terstruktur dengan sembilan karyawan Harita Nickel yang dipilih berdasarkan keterlibatan langsung mereka dalam penerapan LNRA pada kegiatan operasional,” ujar Klaus sebagaimana dikutip, Senin (9/2/2026).

Hasil wawancara kemudian dianalisis menggunakan pendekatan grounded theory, dimulai dari pengodean awal untuk mengenali pola, hingga penentuan tema utama dan pengelompokan data ke dalam kategori konseptual.

Dari penelitian tersebut, terungkap bahwa pemahaman terhadap LNRA telah terbentuk di berbagai level dan fungsi kerja di Harita Nickel. LNRA tidak hanya dipandang sebagai kewajiban lingkungan, tetapi sebagai kerangka strategis yang memengaruhi perencanaan dan kolaborasi internal dalam pengelolaan keanekaragaman hayati.

“Temuan utama menunjukkan adanya pemahaman yang kuat mengenai pentingnya penerapan LNRA di berbagai fungsi dan level dalam perusahaan. LNRA dipersepsikan sebagai alat strategi untuk membantu perusahaan memahami risiko keanekaragaman hayati secara menyeluruh,” jelasnya.

Meski demikian, studi ini juga menyoroti perlunya penguatan penerapan LNRA di tingkat operasional agar semakin terintegrasi dalam praktik kerja sehari-hari. Tantangan tersebut direspons perusahaan melalui program pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, serta diskusi rutin dan terstruktur lintas departemen.

Komitmen Harita Nickel terhadap konservasi keanekaragaman hayati tidak berhenti pada kebijakan internal semata. Perusahaan secara aktif melakukan kajian implementasi LNRA untuk menguji, mengevaluasi, dan mendokumentasikan kinerjanya. Publikasi hasil kajian tersebut di forum ilmiah internasional menjadi wujud transparansi dan akuntabilitas perusahaan kepada publik.

Melalui penerapan LNRA, Harita Nickel berupaya menegaskan bahwa kegiatan pertambangan dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam memastikan masa depan energi yang berkelanjutan tanpa mengabaikan kelestarian alam. (Shiddiq)