Beranda Korporasi Harita Nickel Ungkap Praktik Pertambangan Bertanggung Jawab di Pulau Obi

Harita Nickel Ungkap Praktik Pertambangan Bertanggung Jawab di Pulau Obi

137
0
Filter press untuk memisahkan fraksi padat dan cair tailing HPAL (Foto: Dok. Harita Nickel)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Harita Nickel beroperasi di Pulau Obi berlandaskan prinsip pertambangan bertanggung jawab dan berkelanjutan. Demikian diungkapkan Executive Vice President for Environmental Affairs Harita Nickel, Iwan Syahroni.

“Harita Nickel berkomitmen mengintegrasikan tata kelola lingkungan, efisiensi energi, keselamatan kerja, dan tanggung jawab sosial ke dalam seluruh rantai nilai pertambangan dan pengiriman nikel kami,” ujar Iwan, sebagaimana dikutip dari laman Harita Nickel, Rabu (14/1/2026).

Dalam paparannya, Iwan menjelaskan proses operasional terintegrasi yang dijalankan perusahaan, mulai dari pengolahan feronikel menggunakan teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) hingga pengolahan mixed hydroxide precipitate (MHP) melalui teknologi high pressure acid leaching (HPAL). Operasional terintegrasi ini berperan penting dalam mendukung rantai pasok baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik, sekaligus mendorong agenda transisi energi global.

Salah satu sorotan utama adalah strategi pengelolaan sisa hasil pengolahan (SHP) agar dapat dimanfaatkan kembali. Dia mengungkapkan, slag nikel dari proses smelter RKEF diolah menjadi material bernilai tambah.

“Kami memanfaatkan terak (slag) nikel mulai dari pembuatan reefcube untuk media pertumbuhan terumbu karang, material konstruksi, hingga pembenah tanah untuk reklamasi pascatambang,” jelasnya.

Sementara itu, SHP dari proses kilang HPAL dikelola melalui dry stack tailing facility (DSTF). Fasilitas ini mengelola SHP dalam bentuk kue kering atau padat, bukan slurry cair, yang ditempatkan di area khusus yang aman serta dapat direhabilitasi kembali menjadi lahan hijau.

Ia juga menyoroti upaya rehabilitasi lahan dan konservasi keanekaragaman hayati yang dilakukan Harita Nickel melalui pendekatan ilmiah dan kolaborasi dengan kalangan akademisi. Partisipasi perusahaan dalam berbagai forum diharapkan mampu membangun persepsi publik yang objektif bahwa industri nikel Indonesia dapat dikelola secara transparan, berbasis sains, dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan nasional maupun global. (Shiddiq)