NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Proyek hilirisasi nikel yang dijalankan Ceria Corp di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, berdampak nyata terhadap perekomian lokal. Ceria tidak hanya menghadirkan fasilitas smelter berteknologi tinggi, tetapi juga penciptaan lapangan kerja, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di sekitar wilayah operasional.
Di Kecamatan Wolo geliat pembangunan industri telah membawa perubahan signifikan bagi desa-desa di sekitar wilayah operasional Ceria Corp. Masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam berbagai aktivitas ekonomi dan sosial yang tumbuh seiring berjalannya industri pengolahan nikel di wilayah tersebut.
“Selagi ada perusahaan di tempat kita, kenapa harus ke luar daerah? Kita bisa membangun desa kita sendiri,” ujar Faisal Mustaring, Tenaga Kesehatan Departemen Occupational Health and Safety (OHS) PT Ceria Nugraha Indotama, dalam keterangan tertulis, dikutip, Rabu (14/1/2026).
Faisal menuturkan, sebelum Ceria beroperasi, desanya mengalami keterbatasan tenaga kesehatan dan akses layanan medis. Ketika perusahaan mulai beroperasi dan memprioritaskan perekrutan tenaga kerja dari wilayah ring 1, ia memanfaatkan kesempatan tersebut.
“Desa saya masuk ring 1 dan saat itu belum ada paramedis. Saya yang pertama memasukkan berkas, ikut seleksi, lalu dikontrak untuk bekerja di klinik Ceria,” tuturnya.

Dampak berganda (multiplier effect) juga dirasakan melalui tumbuhnya berbagai usaha pendukung di sekitar kawasan industri. Kehadiran pekerja dari luar daerah mendorong warga lokal membuka usaha kos-kosan, warung makan, serta jasa lainnya.
“Ibu-ibu yang tidak bekerja di tambang sekarang bisa punya warung, penghasilannya ikut naik,” tambahnya.
Selain tenaga kerja, Ceria Corp juga mendorong pengembangan UMKM lokal. Salah satunya melalui pembinaan usaha budi daya madu Trigona yang dijalankan Muhammad Sardillah, lulusan Operational Smelter Development Program (OSDP) Ceria tahun 2023. Usaha Sarfa Bee Farm di Desa Tolowe Ponre Waru kini menjadi mitra binaan UMKM Ceria.
“Dulu saya hanya punya sekitar 30 koloni. Alhamdulillah, setelah menjadi mitra binaan Ceria sekarang sudah berkembang menjadi 90 koloni,” ujar Sardillah.
Pertumbuhan ekonomi lokal tersebut ditopang oleh beroperasinya Smelter Merah Putih Ceria yang mengolah bijih nikel saprolit menjadi feronikel menggunakan teknologi rectangular rotary kiln electric furnace (RKEF). Fasilitas ini memanfaatkan energi bersih bersertifikat renewable energy certificate (REC) dari PT PLN (Persero) dan didukung Barge Mounted Power Plant (BMPP) Nusantara II sebagai bagian dari komitmen penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan dan andal.
Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, mengatakan, Indonesia telah menguasai sekitar 63% pasar global produk nikel setengah jadi sejak 2022. Namun, menurutnya, hilirisasi tidak boleh berhenti pada capaian produksi semata. Hilirisasi harus mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat di sekitar wilayah pertambangan.
“Hilirisasi harus mampu meningkatkan kualitas pendidikan, keterampilan, serta pendapatan masyarakat, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga di sekitar wilayah pertambangan,” ujar Meidy.
Menurut dia, keberhasilan hilirisasi membutuhkan kolaborasi antara perusahaan, pemerintah daerah, dan institusi pendidikan. Peningkatan keterampilan masyarakat di sekitar tambang perlu dilakukan melalui pelatihan, beasiswa, dan berbagai program pengembangan lainnya agar mereka siap terserap ke dalam industri.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah terhadap keberlanjutan operasional smelter nasional di tengah tantangan harga global dan kenaikan biaya produksi.
“Ini contoh bahwa Indonesia mampu membangun pengolahan nikel dengan kekuatan sendiri, tanpa ketergantungan asing,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau Sekretaris Utama BKPM, Mohammad Rudy Salahuddin, mengatakan, pemerintah menaruh harapan besar pada hilirisasi sebagai motor penggerak industrialisasi nasional.
“Masyarakat sekitar sudah ‘hidup’. Ada dukungan CSR, beasiswa, serta peningkatan taraf hidup hingga mereka masuk dalam ekosistem kawasan industri,” katanya.
Dampak langsung terhadap masyarakat, kabupaten, hingga provinsi inilah yang diharapkan dari hilirisasi. Dengan industrialisasi yang inklusif, Indonesia punya peluang besar menjadi negara maju. (Tubagus)






















