NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) optimistis nikel di pasar dunia akan tembus hingga US$19.000/ton. Peningkatan tersebut dapat terealisasi bila pasokan nikel tetap terkontrol.
Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, menguhngkapkan, harga nikel bergerak di level US$19.000/ton dengan asumsi pasokan tetap terkontrol, tidak adanya lonjakan stok global, dan permintaan baja nirkarat (stainless steel) dan kendaraan listrik atau alectric vehicle (EV) membaik.
“Harga nikel berpotensi bergerak di kisaran US$17.000 – 19.000/ton,” kata Meidy kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), di Kantor Sekretariat DPP APNI, di bilangan Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (9/1/2026).
Selain itu, ia menyebutkan, untuk saat ini harga di kisaran tersebut cukup realistis. Untuk tembus sampai US$20.000/ton, menurutnya, saat ini cukup berat.
“Tembus US$20.000/ton masih cukup berat dalam waktu dekat kecuali terjadi gangguan pasokan global besar atau lonjakan permintaan yang signifikan,” ujarnya.
Kenaikan harga nikel tersebut, menurutnya, juga berkaitan dengan adanya keterlambatan penerbitan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) oleh pemerintah. Namun, hal tersebut hanya bersifat sementara karena Indonesia tetap dilihat sebagai produsen utama nikel di pasar global.
“Keterlambatan RKAB berkontribusi secara jangka pendek. Ketika izin produksi belum terbit, pasokan bijih ke smelter terganggu sehingga menciptakan tight supply di pasar domestik,” jelasnya. Meidy menegaskan, kenaikan harga nikel saat ini merupakan kombinasi dari berbagai faktor. Kenaikan harga tersebut yang terpenting adalah keseimbangan dalam harga, produksi, dan keberlanjutan jangka panjan sehingga menjadikan industri yang sehat, negara untung dan pelaku usaha juga dapat merasakan. (Uyun)






















