Upaya PLN Mendukung Industri Nikel dan Pariwisata

154
Direktur Regional Sulmapana, Adi Priyanto

NIKEL.CO.ID, 12 April 2022- Sejak tahun 2020 PT PLN (Persero) telah konsisten melakukan tranformasi untuk pemenuhan energi listrik. Antara lain melalui pasokan listrik dari strategi supplay driven menjadi demand driven.

Hal itu dikatakan Direktur Regional Sulmapana PLN, Adi Priyanto dalam FGD bertema: ‘ Kesiapan PLN dan Pemerintah dalam Mendukung Kesuksesan Industri Smelter’ via zoom pada Selasa (12/4/2022).

Adi mengutarakan, kawasan timur Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi, khususnya di bidang industri dan pariwisata. Untuk mendukung bidang industri dan pariwisata tersebut PLN sebagai perusahaan bergerak di bidang ketenaga listrikan Indonesia siap untuk memenuhi untuk kebutuhan tenaga listrik.

“Karena listrik adalah jantung dari pertumbuhan ekonomi potensi nikel di Pulau Sulawesi, khususnya di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Maluku Utara, sangat besar potensi nikelnya,” kata Adi.

Dikatakan, sesuai dengan kebijakan pemerintah melalui Perturan Menteri ESDM No.11 Tahun 2019 bahwa bijih nikel harus diolah melalui indusri hilir supaya memiliki nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. Industri smelter merupakan hilirisasi nikel yang membutuhkan energi listrik sangat besar.

Sampai saat ini, kata Adi, ada 4 pelanggan smelter yang sudah dilayani listriknya oleh PLN dengan kapasitas 220 mega volt amper (MVA). Sementara calon pelangan yang sudah menandatangi pembelian jual beli tenaga listrik (SPJBTL) sebanyak 6 calon pelanggan dengan kapasita 1.134 mega volt amper (MVA).

“Sedangkan calon pelanggan yang sudah menandatangani MoU sebanyak 11 pelanggan dengan kapasitas 1.085 MVA dari total potensi sebanyak 61 pelangan. Berikutnya ada potensi-potensi dengan daya sekitar 7.184 MVA, sesuai dengan RUPTL tahun 2021-2030, kami akan menambah kapasitas pembakit sebesar 3.698 MW,” tuturnya.

Untuk menjalurkan daya listrik, PLN akan membangun 7.052 KM saluran udara tegangan tinggi, dengan membangun juga 4.700 MVA.

“Kalau kita perhatikan hal tersebut, potensi-potensi sebanyak 7.000 MVA tentunya kita harus memastikan apakah demand tersebut akan benar-benar masuk kedalam sistem ketenaga listrikkan PLN,” ujarnya.

Berdasarkan catatan PLN, kawasan Indonesia timur terdapat beberapa daerah yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai destinasi pariwisata super prioritas atau DPSP. Antara lain, Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB), Pelabuhan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Utara.

PLN, kata Adi, memiliki inisiatif untuk memberikan layanan yang lebih handal pada lokasi-lokasi di PDSP. Misalnya, PLN terbilang sukses memberikan layanan ‘Tanpa Kedip’ di daerah Mandalika pada saat event Motor GP, dan di daerah kawasan wisata Labuhan Bajo. PLN menyediakan listrik tanpa kedip di beberapa hotel di sana.

“Selain itu, juga ada kebutuhan untuk pengembangan green wisata dengan memanfaatkan energi terbarukan yang bisa kita bangun di daerah-daerah di sekitar pariwisata tersebut,” lanjutnya.
Focus Group Disccuasen (FGD) yang dilaksanakan pada hari ini, jelas Adi, bertujuan untuk membangun sinergi antara PLN dan stakeholders terkait dalam penyusunan strategi untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi industri smelter dan daerah pariwisata di Indonesia timur. (Fia)