DPR: Potensi Nikel Nasional Harus Diamankan

NIKEL.CO.ID – Potensi nikel di Indonesia sangat melimpah. Wakil Ketua Komisi VI DPRI RI Mohamad Hekal mendorong kekayaan alam yang satu ini harus diamankan agar bisa dinikmati rakyat Indonesia berupa produk baterai. Saat ini, Kementerian Badan Usaha BUMN sedang membentuk holding industri baterai yang melibatkan empat BUMN, yakni Pertamina, PLN, Antam, dan Inalum.

Hekal mengemukakan hal ini usai mengikuti pertemuan Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi VI DPR RI dengan empat BUMN tersebut bersama Kementerian BUMN di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (20/4/2021). Saat ini, Indonesia sedang membangun investasi besar-besaran pada industri baterai untuk memproduksi kendaraan listrik (electric vehicle) masa depan yang bisa menggantikan produk kendaraan berbahan bakar fosil.

“Saat ini Tesla merupakan perusahaan mobil terbesar asal Amerika yang memiliki kecanggihan baterai yang belum terkejar oleh industri mobil lainnya. Nah, kita mau jadi pelopor di industri baterai karena kita punya bahan bakunya. Dan yang terbesar ada di Sulawesi Tenggara ini,” ungkap Hekal.

Pemerintah kini sudah mulai beralih ke investasi energi terbarukan dan ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Komisi VI mengundang empat BUMN tersebut untuk mengetahui lebih jauh perkembangan holding dan ketersediaan bahan bakunya. Holding yang mengintegrasikan perusahaan pelat merah bidang industri baterai itu adalah Indonesia Battery Coorporation. Holding ini sudah disiapkan sejak Februari 2020 lalu. Hekal berharap, dalam waktu dekat semua mitra kerja holding dan perjanjian bisnis akan diselesaikan.

“Potensi nikel di Indonesia yang dikelola dua BUMN (Inalum dan Antam) sekitar 20 persen dari sumber daya yang ada di Indonesia. Kita minta itu diamankan dan ditingkatkan supaya bisa dinikmati rakyat Indonesia. Kemajuan Indonesia dalam electric vehicle, energi baterainya bisa mendorong hilirisasi industri lainnya,” pandang politisi Partai Gerindra itu.

Dijelaskannya, butuh waktu yang panjang untuk mengalihkan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik. Persiapan sudah dimulai saat ini. Dan peralihan itu harus melalui masa transisi.

“Persiapan peralihan industri electric vehicle tidak serta merta menghapus energi fosil, karena pasti melalui transisi yang cukup panjang, tapi harus mulai diancang-ancang. Kita sudah mulai langkah konkret untuk membangun industri baterai ini. Kita pastikan benefitnya untuk rakyat Indonesia,” tutup legislator dapil Jawa Tengah IX ini.

Sumber: DPR.go.id

Read More

Kritik Smelter Milik Cina, Gerindra: Peraturan Dianggap Bungkus Kacang Goreng

NIKEL.CO.ID – Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Gerindra, Andre Rosiade, mengkritik sejumlah pihak pengelola smelter milik China di Indonesia, seperti Morowali dan Konawe, yang acap kali membeli sumber daya alam seperti nikel dengan harga murah. Dia menuding keberadaan smelter-smelter tersebut membuat negara rugi.

“Smelter milik China merugikan negara. SDA (sumber daya alam) nikel kita dibeli dengan harga murah dan Peraturan Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) dianggap bungkus kacang goreng karena mereka (investor) tidak pernah mau mengikuti (aturan),” ujar Andre dalam rapat dengar pendapat yang digelar Komisi VI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 29 September 2020.

Andre tidak menerangkan lebih lanjut data harga pembelian nikel oleh smelter China yang ia sebut sangat rendah. Adapun harga jual nikel diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 07 Tahun 2017 tentang Tata-Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral, Logam, Batubara.

Lebih lanjut, Andre juga mengkritik sikap pemerintah yang justru kendur terhadap investor Negeri Tirai Bambu. Ia menilai pemerintah memfasilitasi China memperoleh harga murah untuk pembelian nikel.

“Jadi seekan-akan smelter (asal) China untouchable (tidak tersentuh),” ucapnya.

Menurut Andre, perusahaan pelat merah pertambangan yang tergabung dalam grup MIND ID semestinya dapat bekerja sama membangun smelter baru untuk industri hilirisasi. Ia berharap langkah ini optimal untuk pemulihan ekonomi di sektor energi di masa mendatang.

Ia pun meminta pemerintah dan mitranya menggandeng pengusaha nikel lokal. Dengan begitu, pengusaha lokal bakal memperoleh harga terbaik.

Sumber: Tempo.co

Read More

Komisi VI DPR RI: Pengusaha Nikel Lokal Kita Masih Dizalimi Dengan Harga Rendah

NIKEL.CO.ID – Senayan mempersoalkan industri hilirisasi nikel yang banyak dikuasai asing. Mereka dengan leluasa membeli nikel dengan harga murah, jauh di bawah harga patokan pemerintah.

BUMN Pertambangan Nasional yang digawangi Mind ID diminta segera melakukan penyelamatan. Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade mengungkapkan hal itu dalam rapat kerja bersama Holding BUMN Pertambangan, PT Surveyor Indonesia (Persero) dan PT Sucifindo (Persero) di gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (29/9/2020).

“Untuk PT Antam (Persero), saya mendengar ada keluhan dari asosiasi pengusaha nikel kita sampai sekarang harga patokan mineral (nikel) yang dijanjikan pemerintah masih angan-angan,” kata Andre.

Padahal, sambung Andre, pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) telah mengeluarkan peraturan menteri mengenai patokan pembelian harga mineral nikel dalam negeri.

Andre memberi contoh, perusahaan-perusahaan smelter asal China yang ada di Marowali (Sulsel) dan tempat lainnya hanya mau membeli dengan harga sangat murah.

“Pengusaha nikel lokal kita masih dizalimi dengan harga rendah. Harga yang tidak manusiawi oleh smelter-smelter China yang di Marowali, itu yang menurut saya hanya menguntungkan mereka,” katanya.

Politisi Gerindra ini menilai, investor itu berupaya mengeruk sumber daya alam negara ini lalu membelinya dengan harga murah. Ironisnya, pemerintah malah memfasilitasi para pengusaha asal China ini untuk memperkaya diri.

“Smelter China di Indonesia tapi tidak menguntungkan kita. Saya berharap Mind ID, PT Antam, menjalin hubungan dengan pengusaha-pengusaha lokal,” katanya.

Andre telah mendengar bahwa Menteri BUMN Erick Thohir baru-baru ini ke Korea Selatan untuk mempersiapkan bisnis hilirisasi nikel ini membangun industri baterai dan berbagai industri lainnya.

Dia berharap, bisnis hilirisasi ini bisa direalisasikan melalui BUMN dengan menggandeng para pengusaha-pengusaha nikel. Dengan demikian, para pengusaha nikel lokal tidak lagi jual nikel ke pengusahapengusaha smelter China dengan harga murah.

Dia pun berharap, tidak ada perlakuan istimewa ke para pengusaha-pengusaha smelter China ini. Bukan sebaliknya, tidak tersentuh.

Sumber: rmco.id

Read More

Kritik Smelter Milik China, Gerindra: Peraturan Dianggap Bungkus Kacang Goreng

NIKEL.CO.ID – Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Gerindra, Andre Rosiade, mengkritik sejumlah pihak pengelola smelter milik China di Indonesia, seperti Morowali dan Konawe, yang acap kali membeli sumber daya alam seperti nikel dengan harga murah. Dia menuding keberadaan smelter-smelter tersebut membuat negara rugi.

“Smelter milik China merugikan negara. SDA (sumber daya alam) nikel kita dibeli dengan harga murah dan Peraturan Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) dianggap bungkus kacang goreng karena mereka (investor) tidak pernah mau mengikuti (aturan),” ujar Andre dalam rapat dengar pendapat yang digelar Komisi VI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 29 September 2020.

Andre tidak menerangkan lebih lanjut data harga pembelian nikel oleh smelter China yang ia sebut sangat rendah. Adapun harga jual nikel diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 07 Tahun 2017 tentang Tata-Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral, Logam, Batubara.

Lebih lanjut, Andre juga mengkritik sikap pemerintah yang justru kendur terhadap investor Negeri Tirai Bambu. Ia menilai pemerintah memfasilitasi China memperoleh harga murah untuk pembelian nikel. “Jadi seekan-akan smelter (asal) China untouchable (tidak tersentuh),” ucapnya.

Menurut Andre, perusahaan pelat merah pertambangan yang tergabung dalam grup MIND ID semestinya dapat bekerja sama membangun smelter baru untuk industri hilirisasi. Ia berharap langkah ini optimal untuk pemulihan ekonomi di sektor energi di masa mendatang.

Ia pun meminta pemerintah dan mitranya menggandeng pengusaha nikel lokal. Dengan begitu, pengusaha lokal bakal memperoleh harga terbaik.

Sumber: tempo.co

Read More