Beranda Berita Nasional Membuka Workshop CPI Nikel, Sugeng Mujiyanto: Satu Perusahaan Satu CPI, Cakep!

Membuka Workshop CPI Nikel, Sugeng Mujiyanto: Satu Perusahaan Satu CPI, Cakep!

461
0

NIKEL.CO.ID, 18 Juli 2022- Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Sugeng Mujiyanto membuka Workshop CPI Nikel–Melakukan Estimasi Pelaporan Sumber Daya dan Cadangan Nikel Berdasarkan Kode KCMI di Hotel Novotel Jakarta, Senin (18/7/2022).

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral, Sugeng Mujiyanto mengungkapkan, setiap tahun ketika badan usaha pertambangan melaporkan Rencana Kerja Anggaran Belanja (RKAB) ke Kementerian ESDM, dirinya sempat mendapat protes dari badan usaha yang RKAB-nya dikembalikan atau tidak disetujui. Mereka telepon sehari sampai tiga kali menanyakan proses RKAB-nya.

“Tugas kami di pemerintahan adalah melayani bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian dari badan usaha,” kata Sugeng Mujianto dalam sambutan pembukaan Workshop CPI Nikel.

Karena itu, Sugeng Mujianto menekankan pentingnya peran CPI yang berkompeten di badan usaha pertambangan dalam membuat laporan estimasi cadangan, sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

Dia mengaku sempat terenyuh membaca laporan eksplorasi feasibility study yang disusun oleh seseorang, kualitasnya sangat mengecewakan.

Menurutnya, peran CPI berkompeten sangat penting dalam membuat Pelaporan Hasil Eksplorasi, karena itu nanti akan digunakan badan usaha untuk estimasi sumber daya maupun cadangan.

Integritas CPI juga sangat penting. Karena di situ mengandung arti ada nilai-nilai negara. Sumberdaya alam yang ada di bumi ini nanti diinventarisir, dicatatkan jumlahnya.

“Kalau kita bicara cadangan pasti ada nilai ekonomis. Ekonomisnya berapa, di kadar berapa, itu sangat penting bagi kita semua,” ujarnya.

Sugeng Mujiyanto mengungkapkan, kadang pemerintah mendapatkan adanya ketidaksesuaian data. Mestinya produksi badan usaha itu sudah habis ditambang selama 10 tahun. Tapi, masih melakukan kegiatan produksi, padahal luasnya segitu-gitu saja.

“Kemungkinan yang pertama adalah keliru pada saat pencatatan yang pertama. Data eksplorasinya salah, angkanya tidak tepat, kadarnya tidak pas. Kedua, perhitungannya tidak pas. Ketiga, hasil mencuri,” tukasnya.

Dia mengimbau jangan sampai badan usaha pertambangan beranggapan yang penting memiliki IUP, nanti kan ada “dokternya” (dokumen terbang).

“Dokter yang baik praktiknya di rumah sakit atau klinik. Kalau dokter ini di lapangan, jadi ini punya siapa, dokumen siapa tidak jelas. Kuotanya tidak habis-habis pula. Padahal hanya 100 hektare saja,” bebernya.

Dirinya berharap setiap perusahaan memiliki CPI, sehingga nanti tidak kesulitan lagi meminta bantuan jasa CPI.

“Satu perusahaan satu CPI itu cakep! Kalau perusahaan menyekolahkan karyawannya menjadi CPI, sangat bagus sekali,” imbuhnya.

Sugeng Mujiyanto mengapresiasi lolosnya 18 calon CPI untuk mengikuti bimbingan pendidikandan pelatihan (Diklat) dari Workshop CPI Nikel yang diselenggarakan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bekerjasama dengan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).

“Ke-18 calon CPI ini kloter pertama, kita berharap ada kloter kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya,” katanya.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral bersama Ketum PERHAPI,Ketum APNI, Sekum APNI dan Pengurus DPP APNI lainnya.

Acara Workshop CPI Nikel juga mendapat sambutan dari Ketua Umum PERHAPI Rizal Kasli, Ketua Umum APNI Nanan Soekarna, dan Ufi Ma’rufianty dari Masyarakat Ekonomi Geologi Indonesia (MEGI) mewakili Ketum IAGI Burhanuddin.

Mereka menekankan pentingnya CPI yang memahami ketentuan kode pelaporan yang digunakan, dalam hal ini Kode KCMI 2017 yang dalam implementasinya didasari atas tiga dasar prinsip. Dan merupakan komponen penting dalam pelaporan yang mengacu pada kode KCMI, yaitu transparansi, materialitas, dan kompetensi.

Mereka berharap seorang CPI nantinya ikut mendorong pertambangan Indonesia menjadi lebih baik.

Sebelumnya dari sekitar 60 orang yang mendaftar di Sekretariat APNI, terseleksi oleh panitia sebanyak 18 orang dinyatakan lolos sebagai peserta calon CPI dan lima orang lagi hanya mengikuti Workshop CPI Nikel selama 5 hari.

Informasi dari Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey menyebutkan bahwa jumlah peserta ternyata bertambah lagi satu orang, namun untuk peserta workshop, bukan kriteria untuk calon CPI.

“Hari ini memang peserta diikuti 18 calon CPI dan 5 peserta workshop. Besok, di hari kedua akan hadir satu peserta lagi, karena belum sempat mengikuti kelas pembekalan materi di hari pertama,” kata Meidy Katrin Lengkey.

Adapun ke-18 orang yang telah memenuhi persyaratan sebagai calon CPI dalam Workshop CPI Nikel, yaitu pertama, dapat mengoperasikan Software Pemodalan Geologi untuk peserta Workshop Estimasi Sumberdaya dan Software Mine Planning untuk peserta Estimasi Cadangan. Kedua, pendidikan minimal S1 Bidang Pertambangan/Geologi/Insinyur Pertambangan/Ilmu Kebumian (Geofisika). Ketiga, minimal 5 tahun di industri nikel dan bidang yang relevan dengan kategori keahlian (Sumberdaya/Cadangan). Keempat, terdaftar sebagai anggota PERHAPI atau IAGI. Kelima, terdaftar sebagai anggota APNI. Keenam, komitmen mengikuti Diklat hingga selesai. Ketujuh, lolos screening CV.

Panitia workshop membagi peserta yang mengikuti pembekalan materi-materi tersebut ke dalam dua kelas, sesuai dengan ketentuan kriteria bidang yang ditekuni para calon CPI, yaitu Kelas Estimasi Sumberdaya Nikel dan Kelas Estimasi Cadangan Nikel. (Tim)

Artikulli paraprak18 Calon CPI Mengikuti Workshop CPI Nikel selama 5 Hari
Artikulli tjetërKetua Kombers KCMI, Lufi Rachmad: Kebutuhan CPI Nikel semakin Banyak