Butuh Waktu, Begini Rantai Pasok dari Nikel sampai Menjadi Baterai

NIKEL.CO.ID – Pemerintah bercita-cita menjadi pemain mobil listrik dunia. Salah satu langkah awal yang dilakukan untuk mencapai cita-cita tersebut yakni mendekati sejumlah perusahaan kelas dunia, dari produsen baterai hingga mobil listrik.

Misi tersebut bukan tanpa alasan. Sumber daya alam yang melimpah, terutama komoditas nikel di Tanah Air menjadi pendorong pemerintah mendorong industri baterai dan mobil listrik ini. Nikel merupakan bahan baku komponen baterai kendaraan listrik ini.

Namun, untuk membangun industri baterai ini akan membutuhkan waktu, terutama karena adanya runutan rantai pasok untuk membangun industri baterai kendaraan listrik ini.

Penasihat Khusus Menteri Bidang Kebijakan Inovasi dan Daya Saing Industri Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan transformasi dari bijih nikel menjadi baterai ion litium (LiB) membutuhkan waktu.

Dimulai dari bijih nikel diolah menjadi konsentrat lalu diolah menjadi M-Sulfat. Kemudian, diolah menjadi precursor lalu menjadi material katoda, dan terakhir baru menjadi baterai ion lithium (cell level).

“Sumber daya nikel di Indonesia itu kekuatan yang kita miliki, ada potensi luar biasa di nikel,” ungkapnya dalam Webinar DRTI Pertamina, Kamis (18/02/2021).

Dia mengatakan, sebagian besar unsur inti pada material katode baterai terkandung pada bijih nikel, khususnya nikel limonit. Ada tahapan proses metalurgi yang dikerjakan hingga akhirnya membentuk material katode baterai sesuai dengan kualitas yang diharapkan.

“Setiap tahapan proses menghasilkan produk antara sebelum akhirnya menghasilkan material katoda,” paparnya.

Nilai tambah dalam pemrosesan ini akan memberikan dampak besar pada Produk Domestik Bruto (PDB) apabila rangkaian industri baterai tersebut dilakukan di dalam negeri.

“Nilai tambah akan memberikan efek besar,” tegasnya.

Pemerintah terus mendorong penggunaan kendaraan listrik di masyarakat, termasuk melalui Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi mobil listrik di Indonesia pada 2021 ini mencapai sebanyak 125 ribu unit dan motor listrik mencapai 1,34 juta unit.

Dengan potensi kendaraan listrik pada tahun ini, maka diperkirakan bakal mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 0,44 juta kilo liter (kl) per tahun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan pemerintah menyiapkan strategi dan dukungan untuk mendorong peningkatan penggunaan kendaraan listrik.

“Yang kita lakukan adalah mendorong percepatan pabrik baterai lebih kompetitif dan menarik bagi investor,” ungkapnya dalam Raker di Komisi VII DPR RI, Selasa (19/01/2021).

Hingga 2025, total potensi penggunaan kendaraan listrik di institusi kementerian/ lembaga, pemerintah daerah, BUMN hingga swasta bahkan diperkirakan bisa mencapai 19.220 unit untuk mobil listrik, 757.139 unit untuk motor listrik, dan 10.227 unit untuk bus.

Sementara total potensi kendaraan listrik nasional yang bisa digunakan pada 2025 bisa meningkat lebih dari dua kali lipat mencapai 374 ribu unit mobil listrik dan motor listrik bahkan diperkirakan naik hampir 10 kali lipat menjadi 11,79 juta unit.

Sumber: CNBC Indinesia