Benarkah Energi Terbarukan Bakal Bunuh Energi Fosil?

NIKEL.CO.ID – Energi terbarukan saat ini kian dilirik untuk menggantikan energi berbasis fosil yang kelak bakal habis. Namun benarkah energi terbarukan bakal menggusur energi fosil karena lebih unggul secara ekonomis dan ekologis? Belum tentu.

Penggunaan energi terbarukan memang terus bertumbuh seiring dengan nilai keekonomiannya yang terus meningkat, sebaliknya penggunaan energi fosil menurun menyusul pengurangan emisi gas karbon sebagaimana digariskan dalam Kesepakatan Paris mengenai perubahan iklim.

Menurut Renewable Energy Institute, penggunaan energi fosil untuk listrik tahun lalu turun 156 terawatt hours (TWh) dari posisi pada tahun 2018. Sebaliknya, penggunaan energi terbarukan naik 297 TWh, atau lebih tinggi dari tambahan total pembangkitan listrik yang sebesar 233 Twh.

“Ini adalah dorongan keekonomian mengingat listrik dari energi terbarukan yang lebih murah berhasil mengalahkan pembangkit listrik fosil dan nuklir,” tutur Tomas Kaberger, Kepala Dewan Eksekutif Renewable Energy Institute sebagaimana dikutip Reuters.

Sumber: Refinitiv
Sumber: Refinitiv

Penurunan pembangkitan listrik berbasis energi fosil pada 2019 itu merupakan yang kedua kali terjadi dalam sejarah, menurut BP’s Statistical Review of World Energy. Penurunan pertama terjadi pada 2009 akibat krisis finansial global yang memicu melambatnya pertumbuhan produksi listrik global.

Bertumbuhnya industri pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan menjadi pemicunya, terutama di tengah gencarnya kampanye untuk meninggalkan energi fosil, khususnya batu bara. Beberapa negara mulai beralih ke energi terbarukan sesuai komitmen Paris Agreement.

Di Amerika Serikat (AS), sudah ada penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara, dengan kapasitas mencapai 15,3 gigawatts (GW) pada 2019 saja. Pembangkitan listrik dari batu bara di India juga turun, menjadi penurunan pertama dalam 1 dekade terakhir.

Meski tren penggunaan energi terbarukan meningkat dengan pesat, tetapi porsinya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total konsumsi energi. Di AS, misalnya, sumber energi utama masih didominasi energi fosil, sebesar 80,2%. Porsi energi terbarukan hanya 11,5%.

w
Sumber: Pew

Kaberger menilai pertumbuhan penggunaan energi terbarukan terjadi karena meningkatnya penggunaan mobil listrik, yang mendapatkan daya listrik dari sumber energi terbarukan. Benarkah demikian? Tidak ada uraian lebih jauh mengenai itu.

Namun jika bicara jaringan listrik (grid), sulit menentukan sejauh mana mobil listrik mendapat daya dari sumber terbarukan dan bukan dari fosil. Pasalnya, mayoritas produksi listrik berasal dari energi fosil dan energi terbarukan yang saling bercampur.  Tak ada yang bisa mengubah itu, karena terkendala satu hal: baterai.

Dalam jaringan listrik nasional, kapasitas produksi listrik harus selalu di atas beban puncaknya, untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi listrik di masyarakat. Ketika konsumsi turun, maka produksi pun diturunkan, secara real time atau bersamaan. Demikian juga sebaliknya.

Tidak (belum) ada konsep penyimpanan listrik ke dalam baterai, yang bakal dilepas ke pengguna ketika beban puncak terlampaui. Oleh karenanya, produksi listrik dalam skala nasional harus berlangsung terus-menerus secara real time.

Pada titik inilah energi terbarukan menemui kelemahannya, sehingga membuatnya berposisi sebagai pelengkap energi fosil. Energi berbasis dari sumber alam ini terkendala persoalan intermitensi (produksi naik turun mengikuti kondisi alam). Problem ini terutama dialami oleh energi surya dan angin, yang merupakan dua sumber energi terbarukan paling murah.

q
Sumber: BNEF

Bayangkan jika PLN memakai 100% energi listrik dari panel surya. Ketika cuaca mendung, maka kemampuan produksi listrik, sebagaimana temuan CleanTechnia, akan turun drastis hingga menjadi seperempat dari biasanya.

Jika itu terjadi, maka 3/4 pasokan listrik hilang. Maka terjadilah pemadaman berjamaah. Tidak usah dibayangkan bagaimana PLN memasok listrk pada malam hari ketika solar panel berhenti produksi. Demikian juga dengan pembangkit listrik dari bayu yang akan kehilanngan produksi ketika angin berhenti bertiup.

Oleh karenanya, kedua sumber energi terbarukan tersebut memerlukan baterai. Jika bicara baterai, maka kita akan bicara soal eksploitasi mineral dalam skala besar, yang memiliki dampak negatif secara ekologis, dan memiliki jejak karbon yang besar.

Ongkos memproduksi perangkat energi terbarukan memang kian murah, tetapi ongkos produksi baterai masih lebih mahal jika dibandingkan dengan ongkos produksi listrik dari fosil.

Mari kita ambil contoh Tesla yang memiliki pabrik baterai listrik yang terbesar di dunia, yang berlokasi di Nevada. Pada 2018, perseroan mencapai kapasitas produksi tahunan baterai setara dengan 20 gigawatthour (Gwh). Besar bukan?

Namun harap diingat, angka itu hanya setara dengan 6 menit permintaan listrik AS setahun. Menurut Energy Information Administration dalam laporan berjudul “Electric Power Annual 2018”, konsumsi listrik AS pada 2020 mencapai 4.222,5 terawatthour (TWh), atau 4,2 juta Gwh.

Dus, Tesla bakal perlu mendongkrak kapasitas produksinya 210.000 kali dari yang di Nevada, jika ingin memproduksi baterai yang cukup untuk memasok kebutuhan listrik AS, bersumber dari energi surya dan angin, mengenyahkan energi fosil. Dengan kapasitas sekarang, bakal perlu 210.000 tahun untuk mewujudkan itu.

Adakah negara yang memiliki baterai raksasa untuk menjaga pasokan listrik nasonal ketika terjadi kendala intermitensi itu terjadi? Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, tidak ada. Sejauh ini, hanya Jerman yang menjadi negara dengan persentase penggunaan listrik surya dan bayu terbesar, yakni sebesar 42%.

q
Sumber: Statista

Namun menurut World Energy Council (2018), Jerman menjadi negara dengan tarif listrik termahal dunia, yakni sebesar US$0,33 per kwh, atau empat kali lebih mahal dari tarif listrik di China yang pada periode sama mendapatkan 70,4% pasokan listriknya dari energi fosil.

Mengapa demikian? Jawabannya kembali pada biaya baterai. Saat ini, penghitungan ongkos pembangkitan listrik tersetarakan (levelized cost of energy/lcoe) energi terbarukan belum memasukkan biaya baterai.

Jika ingin energi terbarukan menggantikan energi fosil saat ini juga, maka diperlukan produksi baterai raksasa dalam skala besar, yang pada akhirnya berujung pada eksploitasi dan jejak karbon dalam skala yang sama besarnya dengan eksploitasi energi fosil.

Menurut HMS Bergbau AB, untuk memproduksi 50-100 kilogram (kg) bahan baku baterai (yakni lithium, tembaga, nikel kobalt, mineral tanah jarang, aluminium dan baja) perlu penambangan, pengangkutan, dan pemrosesan panjang. Tiap 1 kilogram baterai Tesla membutuhkan ketersediaan material tersebut hingga 25-50 ton.

“Setiap 540 kg baterai Tesla menyimpan listrik yang disimpan setiap 30 kg batu bara untuk pembakaran di pembangkt listrik. Tiap 30 kg batu bara yang ditambang sebanding dengan 25-50 ton bahan mentah yang diperlukan (untuk baterai),” tutur Lars Schernikau, Direktur Utama HMS Bergbau AB, emiten batu bara asal Jerman, kepada CNBC Indonesia.

Oleh karena itu, menurut Lars, ada dampak lingkungan yang besar ketika memproduksi baterai dalam skala masif untuk menggantikan seluruh mobil atau pembangkit listrik fosil. Dia juga mengingatkan dampak lingkungan daur ulang baterai yang juga harus diperhitungkan.

Singkat kata, membangun pembangkit listrik tenaga surya atau tenaga bayu secara mandiri menggantikan energi fosil adalah utopia, terutama untuk negara sebesar Indonesia. Kendala intermitensi pembangkit listrik dari energi terbarukan bisa teratasi oleh pembangkit listrik berbasis fosil.

Jadi mohon maaf, selama baterai masih menjadi kendala, energi terbarukan takkan bisa menggusur peran energi fosil secara total. Solusinya, kolaborasi antara fosil dan non-fosil.

Sumber: CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.